Tuesday, November 6, 2012

10 Kejanggalan Konspirasi Bom Bali 1


Drama belum berakhir. Kasus Bom Bali masih menyisakan sejuta tanda tanya. Para pakar, pengamat, politisi, pejabat, dan juga aparat, mengeluarkan statemen yang saling berbeda satu sama lain. Bom Bali tidak berdiri sendiri, berkaitan dan bahkan dikait-kaitkan dengan berbagai peristiwa sebelumnya.
Kejanggalan Pertama: Sosok Umar al-Faruq
Umar al-Faruq

Jauh hari sebelum Bali diguncang bom, Indonesia sempat diguncang dengan berita tertangkapnya seorang ‘teroris’ bernama Umar al-Faruq di kawasan Bogor (05/06/02) oleh dinas intelijen Amerika. Peristiwa ini sungguh merupakan suatu tamparan memalukan sekaligus menyakitkan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Baik pemerintahannya, aparatnya, maupun umat Islam. Pemerintah tentu malu dikatakan sebagai negara sarang teroris. Aparat malu karena kecolongan. Dan umat Islam sakit hati karena terorisme dikait-kaitkan dengan agamanya. Media massa pun lalu simpang siur memberitakan siapa sebenarnya sosok Umar al-Faruq ini.
Dari sosok ini saja sudah muncul banyak sekali kejanggalan. Sebutlah misalnya; cara penangkapannya yang kontroversial, ekstradisisnya ke Amerika Serikat yang sangat mudah, pemberitaan tentang kewarganegaraannya, nama sebenarnya, penahanannya di Amerika, kesulitan aparat membawanya kembali ke Indonesia, pengakuannya tentang jaringan terorisme internasional di Indonesia kepada CIA dan majalah TIME, tuduhannya terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, tuduhannya terhadap TNI berada di belakang kasus Bom Bali, komentarnya bahwa bom yang meledak di Bali adalah dari jenis TNT yang nota bene milik TNI, dan sebagainya. Segala hal tentang Umar al-Faruq ini memang misterius dan mengundang tanya. Semua serba janggal.

Kejanggalan Kedua; Penutupan Kedubes dan Konjen AS
Hari-hari menjelang setahun peringatan peristiwa 11 September 2001, Amerika Serikat melakukan berbagai move (baca: teror) yang menyudutkan Indonesia. Amerika ingin mencitrakan bahwa Indonesia adalah negara yang tidak aman dan sarang teroris. Di antara tindakan Amerika yang menyakitkan, adalah ditutupnya Kantor Kedutaan Besar AS di Jakarta dan Kantor Konsulat Jendral di Surabaya (10/09/02). Bagaimanapun juga, pentutupan Kedubes dan Konjen AS itu terasa janggal. Pasti ada maksud-maksud tertentu di balik itu. Setidaknya, itu adalah bagian dari langkah-langkah Amerika untuk mencitrakan Indonesia sebagai negara yang tidak aman karena ada teroris di dalamnya.

Kejanggalan Ketiga; Peringatan Amerika
Sebelum tragedi memilukan ini terjadi, pada tanggal 10 Oktober 2002 Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada warganya di seluruh dunia untuk waspada. ”Para teroris akan mengalihkan sasaran pada target yang lebih empuk, termasuk fasilitas di mana orang Amerika biasa berkumpul atau berkunjung, seperti klab malam, restoran, tempat ibadah, sekolah, atau acara rekreasi di ruang terbuka.”
Benar-benar janggal, kenapa Amerika memberikan warning kepada warganya hanya dua hari menjelang Bom Bali terjadi? Menurut pengamat intelijen “kewaspadaan” itu adalah bahasa politik. Dalam bahasa perang dan intelijen negara, waspada artinya tinggalkan. Dengan adanya peringatan ini, bisa dimaklumi kemudian jika tak ada satu pun orang Amerika yang jadi korban (mati) di Bali. Tentu, orang-orang Amerika di Bali sudah pergi meninggalkan Bali terlebih dahulu begitu mendengar peringatan prakondisi ini dari pemerintahnya.

Kejanggalan Keempat; Kapal AS Merapat di Bali
Kapal as di bali

Beberapa hari menjelang hari H, kapal perang Amerika Serikat (AS) dan kapal perang Australia merapat di Pelabuhan Benoa, Bali. Sekadar informasi, Pelabuhan Benoa memang sering dilabuhi kapal perang asing, namun kali ini lain dari biasanya. Saat kapal perang dari dua negara tersebut merapat, mereka langsung mensterilkan wilayah pelabuhan hingga radius 500 meter dari lokasi kapal. Pertanyaannya, mengapa mereka bisa berbuat demikian di wilayah kedaulatan Republik Indonesia? Ini hanya mungkin jika ’pemain asing’ tersebut bekerja sama dengan ’pemain domestik’.
Apa yang dilakukan kapal perang tersebut dan mengapa mensterilkan lokasinya? Dalam tulisan yang dilengkapi film berformat real-player, Vialls mengungkapkan bahwa satu-satunya cara yang dianjurkan untuk membawa bahan peledak berjenis Special Atomic Demolition Munition (SADM) -micro nuke- adalah lewat laut, bahkan lewat bawah laut. Lewat jalur inilah yang paling tinggi tingkat keamanannya. Kembali ke persoalan kapal perang asing. Apakah itu berarti kapal tersebut tengah membawa SADM dan melakukan ’bongkar barang’ ketika merapat di Pelabuhan Benoa? Bisa jadi. Upaya sterilisasi lokasi kapal hingga radius 500 meter memperkuat analisa ini. Bukan msutahil, di sinilah terjadi perpindahan tangan, dari ’pemain asing’ ke ’pemain domestik’.

Kejanggalan Kelima; Jenis Bom yang Digunakan di Bali
Sampai detik ini, belum diketahui secara pasti, jenis bom apa yang dipergunakan untuk meledakkan Bali. Sebetulnya, kecenderungan masyarakat sudah menguat dan mengarah kepada satu jenis bom, yaitu C-4. Media massa juga ramai-ramai memberitakannya. Entah kenapa, polisi kemudian mengubah hasil temuannya itu menjadi jenis bom yang lain. Dari sinilah, jenis bom Bali mulai berganti-ganti.

Kejanggalan Keenam; Kematian Saksi
Ketika penyelidikan kasus Bom Bali masih berlangsung, salah seorang saksi kunci bernama Kadek Alit Margarini (23 tahun) meninggal dunia dalam perjalanan di atas pesawat milik tim medis Australia. Kadek dievakuasi paksa oleh tim medis Australia dari RSUP Sanglah. Saat dirawat, ia mengaku melihat seseorang meletakkan bungkusan di Kafe Paddy’s sebelum ada ledakan. Rencananya, Kadek akan dirawat di RS Royal Darwin. Sebab-sebab kematian Kadek belum diketahui hingga kini.

Kejanggalan Ketujuh; Hilangnya Empat Mayat Warga Australia
Kabar tentang hilangnya empat mayat warga Australia yang diduga sebagai anggota pasukan keamanan (Australia) masih terus menyelimuti RS Sanglah, Bali. Ada sesuatu yang dikhawatirkan, ada kemungkinan penyelidikan kasus Bom Bali menuju ke arah lain. Sejumlah dokter dan perawat yang yang mengurus identifikasi dan evakuasi mayat korban ledakan Bali mengungkap tentang hilangnya empat mayat itu. Empat mayat yang diangkat dari lokasi kejadian tidak masuk ke ruang penampungan jenazah RS Sanglah. “Kemungkinan langsung dibawa ke Australia,” kata salah seorang anggota tim medis.

Kejanggalan Kedelapan; Lahirnya Perppu Antiterorisme
Perppu Antiterorisme

Sabtu dini hari, 19 Oktober 2002, Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra mengumumkan lahirnya Perppu Antiterorisme. Pemerintah RI mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 1 tentang Tindak Pidana Terorisme dan Perppu No. 2 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Perppu No. 1. Setelah itu, ramailah pro-kontra di kalangan masyarakat menanggapi kemunculan Perppu ini.
Tampaknya, Amerika sudah kehabisan cara untuk membuat Indonesia agar serius memerangi terorisme, meskipun sudah banyak peristiwa bom-bom meledak yang terjadi di berbagai tempat, Indonesia masih belum juga membuar aturan khusus tentang terorisme. Lalu, -konon katanya- direkayasalah peledakan bom di Bali yang memakan ratusan korban meninggal. Dan ampuh. Tidak berapa lama setelah itu, lahirlah Perppu Antiterorisme yang lama telah dinanti-nati oleh Amerika Serikat.

Kejanggalan Kesembilan; Kenapa Mesti al-Qaidah?
Menhan Matori Abdul Djalil tak perlu membutuhkan waktu cukup lama untuk menebak siapa pelaku di belakang peristia Bom Bali. “Itu adalah al-Qaidah. Jaringan al-Qaidah yang ada di Indonesia,” katanya enteng.
Apa yang dikatakan Matori ini sama persis dengan sikap Amerika Serikat dan Barat (termasuk Australia) yang langsung menuduh al-Qaidah berada di balik peristiwa peledakan Bali. Mereka menuduh bahwa di Indonesia terdapat jaringan terorisme internasional. Dan masih menurut perspektif mereka, Abu Bakar Ba’asyir adalah pentolan kelompok teroris ini.

Kejanggalan Kesepuluh; Senyum Amrozi bersama Kapolri
Senyum amrozi

Suatu pemandangan yang amat sangat langka, bahkan mungkin belum pernah terjadi dalam sejarah per-“polisi”-an Indonesia, seorang Kapolri menemui tahanan! Sungguh hebat Amrozi. Entah bagaimana dan karena apa dia bisa mendapatkan ‘anugerah’ seperti itu. Kapolri bukan sekadar menemuinya, tetapi juga sempat beberapa saat mengadakan ‘wawancara eksklusif’ dengannya. Yang lebih heboh lagi, Kapolri menyempatkan diri terbang dari Jakarta menuju Bali untuk berjumpa dengan Amrozi Sekali lagi; dari Jakrta ke Bali! Wajar, jika kemudian Rakyat Merdeka -salah satu surat kabar harian ibu kota paling sensasional (15/11/02)- mengusulkan pemberian penghargaan jurnalistik untuk Kapolri. Karena, dia dianggap berjasa telah mewakili para wartawan untuk mewawancarai Amrozi.
Juga dapat dimaklumi, jika Menlu Australia marah-marah dan mengkritik Kapolri yang bersedia menemui Amrozi. Apalagi jelas-jelas terlihat di layar kaca, bagaimana ‘pertemuan’ itu berlangsung hangat dan penuh ‘canda ria’. Mungkin saking jengkelnya dikarenakan kejanggalan ‘peristiwa bersejarah’ itu, PM Australia pun menelpon Presiden Megawati, menyesalkan dan mempertanyakan adanya pertemuan itu.