<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Liburan 12 Hari (Jambi-Medan-Diski-Tarutung-Sibolga)

Friday, March 9, 2012

Liburan 12 Hari (Jambi-Medan-Diski-Tarutung-Sibolga)


Jumat, Tanggal 24 Februari 2012.
Pukul 7.30 pagi aku minum obat magh dan anti mabuk. Pukul 7.40 Aku diantar paman Piter ke loket bus, aku dan mama, menunggu sampai mobil berangkat. Pukul 8.20 bus berangkat. Untung saja aku belum mabuk, padahal saat aku masih kecil aku tukang mabuk darat (mabuk perjalanan)

Sabtu, Tanggal 25 Februari 2012.
Jam 12 bus sudah berada di Simpang Lima Puluh, kira-kira 3 jam lagi sampai di kota Medan. Aku dan mama dioper ke bus lain. Jam 3 sore sampai di kota Medan. Jam 4 sore kami dijemput bibi Yeli, kami menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah bibi Yeli, kami langsung istirahat tidur-tiduran. Badan sangat lemas letih lesu, langsung tidur. Berapa kali terbangun gara-gara digigit nyamuk dan kedinginan karena kipas angin. 

Minggu, Tanggal 26 Februari 2012
Jam 1 siang kami ke rumah kakek-nenek (kakaknya kakek kandung ku) yang tinggal di Kota Diski, tidak jauh dari Kota Medan. Mama bersama bibi dan anak perempuannya naik angkot, sedangkan aku dan paman Solmon naik motor dia. Sekalian keliling menikmati Kota Medan, untuk pertama kalinya. Sesampainya di rumah kakek, aku melihat ada tiga wanita. Dari ketiganya, ada satu yang menarik perhatian ku. Cara duduknya, tomboy sekali dan tidak sopan (kakinya di atas kursi). Tapi entah kenapa, mata aku terpaku melihat dia. Dia berbeda, ternyata ada sesuatu yang aku rasakan. Aw, aw. Dia tak cantik, tapi manis. Dia tak terlalu tinggi, tapi mungil. Dia tidak gendut, pas lah. Dia simpel, senyumnya yang polos itu yang membuat aku tertarik padanya. Setelah aku cari tahu, nama dia Injel. Salah satu cucunya kakek. Tapi awalnya dia cuek kepada ku. Atau aku yang sombong ya. Jam 3sore aku ikut bapaknya Injel, paman Rait (dia supir angkot), kami naik angkot dia ke bandara Polonia, Medan. Tahu saja, aku ingin refreshing jalan-jalan. Untungnya sekarang hari minggu, jadi Medan tidak macet. Di bandara, aku cuci mata melihat pramugari yang cantik-cantik. Jam 7 malam bibi Yeli dan paman Solmon pulang ke rumah mereka. Sedangkan aku dan mama menginap di rumah kakek. Rel kereta api cuma 10 meter dari rumah kakek. Kalau ada kereta lewat, aduh berisik sekali. Bergetar rumah dan barang-barang. Kakek orangnya suka bercerita, enaklah mendengar dia berbicara. Kakek cukup pintar bahasa Inggris. Jam 10 malam tangan aku masuk duri bunga. Ai tidak bisa di cabut, perih sekali. Jam 11 aku dan kakek memasak mie rebus. Lezat makan mie panas-panas di malam hari. 

Senin, Tanggal 27 februari 2012
Jam 7 pagi makan mie rebus bersama Romi cucunya kakek juga. Kakek cerita, bapaknya Romi dulu pernah mau mendekati mama aku. Jam 8 Nando cucunya kakek juga, dia menjemur padi di depan rumah kakek. Jam 10 aku mengajak Nando ke warnet, rencana mau menambah mata kuliah kartu rencana studi kuliah, tapi tak ingat sandinya. Aduh, aku jadi main Point Blank (game online). Jam 2 siang sama kakek jalan-jalan mengambil obat kakek di kota Binjai. Jam 3 kami minum teh manis. Jam 6 sore siap-siap pulang ke Medan. Tadi aku berdoa supaya bisa bertemu Injel untuk terakhir kali. Dan akhirnya doa ku terkabulkan, mucul lah dia. Kebetulan Injel baru pulang dari sekolah. Rumah dia dibelakang rumah kakek, lalu datang lagi dia ke rumah kakek. Dia memakai seragam putih abu-abu. Manis sekali wajahnya. Dia sepertinya mencari perhatian. Beda dengan yang kemarin. Kemarin dia sok cuek, sekarang melirik-melirik. Dia pulang ke rumahnya, rumahnya berada di belakang rumah kakek ku. Entah kenapa dia balik lagi ke rumah kakek. Aku melihat dia meminta uang kepada ayahnya. Waktu itu ayahnya ingin mengantar aku dan mama pulang ke Medan, ke rumah bibi Yeli. Imajinasi ku muncul, jangan-jangan Injel hanya berpura-pura meminta uang ke ayahnya. Padahal sebenarnya dia ingin melihat aku, untuk terakhir kalinya. Sepertinya dia ada rasa (suka) dengan aku. Wajah manisnya akan selalu aku kenang, sampai kami bertemu kembali suatu saat nanti. Tapi yang paling disayangkan, aku lupa untuk mem foto dia. Berarti dia hanya ada di ingatan aku. Selain paman Rait, ibu dan adik laki-lakinya Injel juga ikut mengantar kami, ikut juga nenek dan bibi yang lain. Sekalian satu angkot. Sebelum ke rumah bibi Yeli, kami jalan-jalan dulu ke Mall. Cuma beli satu tas mama.



Medan Plaza Fair


Kakek dan nenek orangnya baik, mereka senang bercerita, bibi yang juga humoris. Anak-anak mereka juga ramah-ramah. Kecuali Injel yang tak pernah sedikit pun menyapa ku. Sebenarnya aku ingin tetap berada di Diski. Aku tak tahu, kapan lagi bisa bertemu Injel. Kisah antara aku dan Injel hampir sama dengan kisah ku dengan Ronang. Yang menjadi masalah adalah adat yang tidak memperbolehkan sebuah hubungan. Dalam adat, aku dan dia tidak boleh kawin. Karena marga ku sama dengan marga ibunya. Tapi ya sudahlah, mungkin tak jodoh. Dia juga belum tentu suka sama aku. 

Oleh karena itu aku makin benci dengan adat karena adat selalu menjadi batu sandungan aku. Lagi-lagi adat membuat aku kecewa. Aku semakin benci dengan adat. Aku sering takut bertemu seseorang karena aku takut tak bisa bertemu dengannya lagi. Aku takut ke suatu tempat, karena aku takut meninggalkan tempat itu. Aku mudah kangen. Tapi dunia selalu berputar. Aku tak bisa hanya berdiam diri. Harus selalu bergerak, dari satu tempat berpindah ke tempat lain. Aku harus jadi cowok yang pemberani. Berani menghadapi awal dan akhir. Arti dari pertemuan dan perpisahan.
Aku masih ingat, dulu saat kami pulang kampung ramai-ramai saat pernikahan bibi Miur dan paman Piter. Ada wanita yang bernama Nina cucu kakek (adiknya kakek kandung ku). Sampai sekarang aku masih ingat nama panjangnya dia, wajah saat kecilnya pun aku masih ingat. Ada tahi lalat di dekat bibirnya. Itu lah yang membuat dia manis. Padahal aku bertemu dengan Nina 9 tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP.


Rencananya besok kami mau ke Kota Tarutung, ke salib kasih. Aku ingin curhat (curahan hati) dengan Tuhan. Akan aku doakan nama Injel di Salib Kasih. Agar mungkin Tuhan lebih dengar, kalau aku benar-benar butuh pendamping hidup. Bukan langsung sebagai istri, namun sebagai pacar dulu baru akan aku jadikan istri selamanya.

Selasa, 28 februari 2012
Jam 8 malam aku dan mama berangkat dari Kota Medan ke Kota Tarutung nail mobil travel. Untung saja aku duduk di samping supir, jadi tidak terlalu mabuk .
Rabu, 29 februari 2012
Pukul 4.40 subuh akhirnya mobil travel kami sampai di Murcel (sepupu aku) di kota Tarutung. Turun hujan, menggigil kami. Udara di Kota Tarutung dingin sekali, air di kamar mandi saja itu sudah seperti air es. Jam 10 pagi aku dan mama jalan kaki ke jembatan kemudian naik mobil angkot no 1 ke Pacur Batu Salib Kasih. Pukul 11.15 sampai di tempat wisata Salib Kasih. Waktu itu, karcis masuk dewasa Rp 2.000/orang kalau anak-anak Rp 1.000/orang. Menuju puncak, harus menaiki ratusan anak tangga, lumayan menguras tenaga. Capek juga. Kira-kira 15-20 menit untuk sampai di atas puncak. Pukul 11.40 kami sampai di atas. Lumayan sepi, ada rombongan pendeta yang juga kesana. Kami photo-photo, istirahat sambil melihat pemandangan Kota Tarutung dari puncak bukit Salib Kasih. Keren.



tempat wisata Tarutung

 
Jam 1 mama berdoa, kemudian aku lagi. Memang enak berdoa di sini; sejuk dan damai. Rasanya tidak ingin pulang, ingin tetap tinggal di sini. Lumayan sepi karena hari rabu. Tapi kalau hari minggu ramai sekali katanya, ada 2 kali ibadah (gereja) di sini. Akhirnya salah satu keinginanku dikabulkan Tuhan. Semenjak pulang kampung ramai-ramai saat pesta pernikahan bibi Miur dan paman Piter. Waktu itu aku ingin ke salib kasih, dan baru hari ini bisa tercapai. Kira-kira 9 tahun lebih. Dan aku juga punya impian, nanti aku menikah di bukit Salib Kasih. Amien.

Jam 2 kami turun ke bawah melihat-lihat barang-barang cinderamata, seperti baju, kalung, topi, tas dll. Eh tiba-tiba mendung dan turun hujan. Tapi untung saja kami sudah sampai di bawah bukit baru turun hujan. Aku beli baju salib kasih warna coklat Rp 40.000. Beli kalung salib Rp 13.000.  Pukul 15.40 beruntung ada mobil angkot yang lewat. Padahal selain hari Sabtu dan Minggu jarang mobil angkot lewat. Pukul 16.30 sampai lagi di rumah Murcel. Kemarin sore tidak mandi, tadi pagi tidak mandi, sore ini juga tidak mandi. 2 hari di tarutung, 2 hari hujan. Luar biasa bauk badan ku ini. 

Kamis, 1 Maret 2012
Berangkat dari terminal Kota Tarutung pukul 8.20 pagi. Dan tiba di terminal Kota Sibolga jam 12 siang. Kami naik bemo (becak motor) ke rumah Ninci, sepupu ku. Sesampainya di rumah dia 3L: Lemas Letih Lesu. Tidur sampai 3 jam.

Jumat, 2 Maret 2012
Jam 12 siang kami (aku, mama, Ninci, Maldi (adik Ninci), Gina (sepupu aku), ke pantai Pandan, 1 keinginan ku tercapai lagi. Tapi di pikiran aku takut tsunami tiba-tiba datang. Jam 1 kami ke pemandian sungai di Sibulian. Mandi dan berenang. Basah-basahan baju dan celana.


sungai di Sibulian

 
Pukul 15.20 kami pulang kerumah paman. Jam 4 nonton warga main bola voli di komplek rumah paman. Jam 6 sore aku ke pasar ikan, melihat dermaga. Anak-anak di sana pada berani terjun ke laut, padahal laut kan dalam sekali. Pukul 18.30 ke pantai, melihat sunset. Merahnya awan dan deburan ombak laut, wah indah sekali pemandangan. Lebih romantis lagi kalau bersama sang pacar.

hotel Wisata Indah

Sabtu, 3 Maret 2012
Paginya enak sekali tidurnya. Rasanya ingin tidur terus. Aku tidur-tiduran sampai jam 12 siang (mantap molor terus). Suntuk sepi karena semua orang pada pergi ke gedung, pesta nikahnya cucunya nenek.

Minggu, 4 Maret 2012
Datang bibi (mamanya Gina) bersama adiknya Gina (aku tak tahu namanya). Hitam manis adiknya Agustina, tinggi kurus. Mukanya mirim cleopatra. Sayangnya, Gina yang ada rasa sama aku, padahal adiknya yang manis.
Rencananya hari ini jam 2 siang kamu mau pulang ke Jambi, eh malah tak jadi. Gara-gara kata nenek ada keluarga yang bawa mobil pribadi mau ke bangko (jadi kami bisa bareng ke jambi). Dan ternyata tak jadi kami bareng mereka. Mungkin ada rencana Tuhan yang lain, biar cerita-cerita dengan nenek. Mungkin agar kami malamnya bisa cerita-cerita. Biar aku mengetahui apa yang belum aku ketahui. Nenek ini adalah kakaknya (mamanya mama). Nenek (mamanya mama sudah meninggal saat mama masih kecil. Kakek (bapaknya mama) juga sudah lama meninggal. Rupanya nenek (mamanya mama) meninggal karena tertekan batin, melihat tingkah kakek (bapaknya mama). Tuhan, tolong jangan sampai mama juga sama seperti nenek yang meninggal karena tertekan batin. Mungkin ini rencana Tuhan agar aku lebih hormat dengan mama, dan aku nanti harus lebih sayang dan setia dengan istri aku nanti. Tuhan ajarkan aku untuk mengenal kasih, menyayangi semua orang yang di dekat aku. Amien

Dan aku kecewa karena sampai hari ke-10 liburan pulang kampung, tetap tak ada satupun wanita yang dapat aku jadikan pendamping. Padahal awalnya pergi ke kampung, pertama untuk refreshing dan kedua untuk mencari jodoh. Jam 8 malam aku ke warnet, mennghilangkan suntuk.


Senin, 5 Februari 2012
Jam 8 pagi kami ke rumah Ninci, mengambil koper kami. Jam 12 siang baru berangkat bus ke Jambi. Mobilnya sering rusak-rusak. 

Rabu, 8 Februari 2012
Jam 5 subuh, akhirnya sampai juga di loket Jambi. Dijemput adik ku pakai motor supra lama kami. Jam 8 pagi aku mandi dan siap-siap mau ke kampus. 

LIBURAN SELESAI...

1 comment:

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.