<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: 7 langkah memilih pasangan hidup (jodoh)

Thursday, February 13, 2014

7 langkah memilih pasangan hidup (jodoh)

Langkah ke-1: Berdoa kepada Tuhan
Langkah Ke-2: Carilah di tempat yang tepat.
Langkah Ke-3: Pilihlah yang sesuai dengan kriteria Tuhan: Seiman. 
Langkah Ke-4: Pertimbangkan Karakter dan Kepribadiannya
Langkah Ke-5: Melakukan screening (melihat Bibit, Bebet, Bobot) calon pasangan hidup.
Langkah Ke-6: Mintalah nasihat. 
Langkah Ke-7: Sekarang buatlah keputusan dengan tenang.

Langkah ke-1: Berdoa kepada Tuhan
Yakobus 1:5 berkata, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah . . . ."
(Amsal 3:5-7) "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak". Jadi kita mesti menyadari bahwa pengertian kita terbatas dan jangan sampai kita dikuasai oleh pengertian atau nafsu kita dan dengan tergesa-gesa memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidup kita dan akhirnya kita jatuh ke dalam masalah-masalah yang disebabkan karena kita terlalu cepat mengambil keputusan.

Di dalam hal memilih pasangan hidup kita tidak boleh terlalu percaya diri. Kita tidak dapat bersandar pada penilaian sendiri sebab pada dasarnya kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah ia akan menjadi pasangan yang tepat untuk kita. Maka perlu dibawa dalam doa dan dipertimbangkan dalam pimpinan Roh Kudus. Hal ini untuk menjaga agar “kebebasan” yang kita gunakan dalam memilih calon pasangan hidup kita itu bukan asal-asalan saja. Karena itu berdoalah supaya Allah memimpin kita menemukan pasangan hidup kita.
Bagaimana kita harus berdoa supaya Allah memimpin kita menemukan suami atau Isteri?
Sesering mungkin dan jangan bosan! Allah sangat ingin mendengar permintaan Anda. Saat Anda membawa permintaan ini ke hadapan-Nya dan menyerahkan diri ke dalam pengarahan-Nya, yakinlah bahwa Dia akan menyatakan kehendak-Nya (Mazmur 37:4; Matius 7:7-12).
Apakah Allah akan menyediakan pasangan hidup bagi setiap orang?

Tidak. Beberapa orang memang dirancang dan diberi karunia untuk hidup melajang dan yang lain dirancang untuk menikah (I Korintus 7). Kehendak Allah bagi beberapa orang adalah hidup melajang - dan bagi mereka, itulah keadaan sebenarnya bagaimana Dia dimuliakan dalam hidup mereka.

Langkah Ke-2: Carilah di tempat yang tepat.
Dalam rangka menemukan istri yang sepadan dan yang rohani bagi anaknya, Abraham mengirim Eliezer (hamba Abraham) ke tempat yang masuk akal baginya - kampung halamannya sendiri (Kejadian 24:3-4,10). Eliezer tidak pergi ke kampung orang Kanaan yang menyembah berhala untuk mencari istri bagi Ishak, seperti halnya kita tidak pergi ke komunitas orang ateis, gereja setan, atau tempat hiburan malam. Ada baiknya kita mencari di komunitas atau tempat dimana berkumpulnya orang yang hidup dalam kasih dan tuntunan Tuhan.

Langkah Ke-3: Pilihlah yang sesuai dengan kriteria Tuhan: Seiman.
Apakah salah jika menikah dengan orang yang kerohaniannya tidak sepadan?
Memang keharmonisan pernikahan tidak hanya ditentukan oleh kesamaan iman namun tidak dapat disangkal, iman kepercayaan memainkan peran penting dalam kehidupan pernikahan. Itu sebabnya ketidaksamaan iman dapat menimbulkan masalah dalam pernikahan.
Jika kita berbicara tentang Raja Salomo, dia akan menunjukkan bahayanya. Salomo mengalami sendiri kengerian akibat menikah dengan orang yang tidak seiman.
Ulangan 7:3-4 menyatakan, "Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kau ambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan la akan memunahkan engkau dengan segera."

Meskipun Salomo mengetahui hal ini dengan lebih baik, ia menyalah gunakan hak istimewanya sebagai raja dan menikahi wanita-wanita dari bangsa asing yang menyembah berhala. Sebagai akibatnya, " ... waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya" (I Raja 11 :4). Baik Salomo maupun seluruh bangsa pada akhirnya turut menderita (ayat 11-13).
Tidaklah bijak untuk memutuskan menikah dengan seseorang yang tidak seiman, karena hal ini akan lebih rumit dan membawa banyak masalah. Tiada hal yang lebih penting bagi Anda atau orang yang akan Anda nikahi selain kerohanian yang baik.
“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” (1 Korintus 6:14).
Karena air dan minyak tidak dapat bercampur. Begitu juga seorang pengikut Kristus tidak akan membangun pernikahan yang berhasil jika menikah dengan orang yang tidak percaya.
Keputusan untuk menikah dengan yang seiman merupakan wujud ketaatan kepada perintah Tuhan. Dan, Tuhan akan memberkati anak-anak-Nya yang mengutamakan-Nya.

Langkah Ke-4: Pertimbangkan Karakter dan Kepribadiannya
Pernikahan bukanlah tempat untuk memperbaiki diri! Jangan memilih orang dengan harapan bahwa Anda mampu mengubah karakter atau kepribadiannya setelah menikah. Apalagi mengharapkan perubahan itu terjadi secara drastis setelah upacara pernikahan. 

Berikut ini beberapa ciri karakteristik yang sebaiknya dicari pada diri orang lain, yaitu:
1. Kejujuran                                                                               
Penulis Amsal berkata bahwa “siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir” (Amsal 24:26). Jika seseorang sungguh-sungguh mencintai kita, maka ia akan memperlihatkan perasaan itu dengan kata-kata yang jujur.
2. Murni dalam hal seksual
(Kejadian 24: 13-14). Pada ayat 16, Ribka digambarkan sebagai wanita yang sangat cantik dan seorang perawan. Hukum Perjanjian Lama tentang perilaku seksual sangatlah keras (Ulangan 5:18; 22:13-21). Penipuan mengenai kemurnian seksual seseorang pada saat pernikahan dapat membawa kematian (ayat 21). Seks diciptakan hanya untuk pernikahan.
Karena itu kita harus menjaga diri kita bagi seseorang yang juga telah menjaga dirinya bagi kita. Ingat selalu hukum emas “jika ingin mendapatkan pasangan yang baik maka kita juga harus menjaga diri agar tetap baik”. Alkitab menasehatkan “jagalah kemurnian dirimu” (1 Timotius 5:22).
3. Sikap saling mengasihi

Alkitab mengajarkan bahwa “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:4-8). Jika seseorang tida memiliki sikap kasih, berhentilah berpikir untuk menikahinya dan hidup bersamanya.
4. Penguasaan diri
Apakah calon yang akan kita pilih menunjukkan penguasaan emosi yang baik ketika marah? Ujilah hubungan Anda dan lihatlah bagaimana hasilnya. Apakah ia kecanduan alkohol, obat-obat penenang, makanan, seks, kerja, atau keinginan membeli barang yang tidak dapat dikendalikan? (Amsal 23:20-21; 25:28; Galatia 5:22-23; Efesus5:15-18). Apakah Anda selalu cekcok? Apakah Anda merasa diperlakukan sewenang-wenang, baik dengan perkataan maupun secara emosional? Amsal memperingatkan kita bahwa menikah dengan orang yang lekas marah dan suka bertengkar dapat menyiksa hidup kita! (Amsal 19: 13; 21:9,19).
5. Tanggung-jawab

Jangan menikah dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan malas, yang kehilangan keinginan atau kehabisan cara untuk memenuhi tanggung-jawab tertentu. Dalam I Timotius 5 Paulus berkata, "Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dan orang yang tidak beriman" (ayat 8). "Orang pemalas" yang begitu sering disebutkan dalam kitab Amsal adalah orang yang harus dihindari untuk dijadikan pasangan hidup (24:30-34).
Kehadiran anak akan membentuk relasi orang tua dengan anak. Suami dan istri yang telah mempunyai anak, kini menjadi orang tua. Relasi ini disertai suatu tanggung jawab, yaitu tanggung jawab orang tua terhadap anak dan tanggung jawab anak-anak terhadap orang tua. Rasul Paulus mengingatkan, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:1-4; Bandingkan Ulangan 6:5-9). Tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya antara lain: merencanakan masa depan mereka.

6. Hormat Orang Tua

Hubungan yang baik dengan orangtua. Bagaimana seseorang berhubungan dengan orangtuanya akan memperlihatkan kepada kita banyak hal tentang karakternya. Allah menempatkan standar yang tinggi untuk penghargaan dan hormat kepada orangtua (Efesus 6:1-3). Orang yang tidak menghormati orang tuanya, bagaimana mungkin bisa menghormati kita yang setara dengannya? Pikirkanlah baik-baik hal ini!
7. Setia / Monogami

Karakteristik paling mendasar dari pernikahan adalah bahwa pernikahan merupakan satu kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Rasul Paulus berkata “baiklah setiap laki-laki (bentuk tunggal) mempunyai isterinya sendiri (bentuk tunggal) dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Korintus 7:2). Monogami bukan hanya ajaran Perjanjian Baru, tetapi merupakan ajaran Perjanjian Lama. Monogami adalah rancangan Tuhan “sejak semula”, yaitu ketika Allah menciptakan satu laki-laki (Adam) dan memberi dia hanya satu istri (Hawa).
Kitab Amsal mengutuk seorang yang berzinah “yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya” (Amsal 2:17). Kristus menegaskan bahwa Allahlah yang benar-benar menyatukan dua manusia bersama-sama di dalam pernikahan dengan mengatakan, “Apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Markus 10:19).
Jadi Allah dari sejak semula menetapkan bahwa pernikahan sebagai ikatan yang permanen, yang berakhir hanya ketika salah satu pasangannya meninggal (bandingkan Roma 7:1-3; 1 Korintus 7:10-11). Paulus juga menegaskan hal ini ketika ia berkata “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3).

Langkah Ke-5: Melakukan screening (melihat Bibit, Bebet, Bobot) calon pasangan hidup. 
Bibit
Memastikan bahwa pilihan saya adalah seorang yang berasal dari keluarga baik-baik, sehingga sudah tertanam akhlak yang baik pula yang tercermin dalam karakter dirinya. Selain itu perlu juga melihat, apakah dalam riwayat keluarga pasangan ada yang memiliki penyakit keturunan yang berbahaya sehingga dapat menurun pada anak-anak  kelak? Hal ini berguna untuk antisipasi kedepannya, misalnya mulai melakukan tindakan preventif tertentu, membuat kesepakatan bersama pasangan untuk melakukan pola hidup sehat dan diet khusus sejak dini.
Bebet
Melihat kesiapan atau kondisi finansial pasangan. Sangat penting untuk mengetahui bagaimana pasangan mengelola keuangannya. Lebih baik apabila bisa memastikan bahwa pasangan sudah memiliki dana menikah. Ini merupakan salah satu faktor penting dalam menuju kesejahteraan dalam berumah tangga selanjutnya. Setelah memiliki pondasi keuangan yang sehat maka selanjutnya akan memudahkan dalam membuat perencanaan keuangan yang komprehensif guna mencapai kesejahteraan hidup  bersama. Misalnya saja mempersiapkan dana pendidikan anak, dana pensiun, dana liburan, dana haji, aset aktif, dan mimpi lainnya.
Bobot
Memilih pasangan yang memang punya kualitas, bisa diartikan seberapa sukses pasangan dalam menjalani kehidupannya, seperti apa pendidikannya, atau seberapa jauh pasangan  mau belajar (tekun – tahan banting – memiliki mental yang kuat).

Langkah Ke-6: Mintalah nasihat.
Cinta pada pandangan pertama adalah ketertarikan sementara -atau sesuatu yang cepat hilang. Cinta butuh waktu untuk bertumbuh dan berkembang. Emosi dapat membutakan kita akan cacat karakter dalam diri orang yang ingin kita nikahi. Amsal mengingatkan kita akan perlunya membandingkan penilaian kita dengan cara mendiskusikannya bersama orang yang kita percayai (12: 15; 20: 18).
Bagaimana jika orangtua saya tidak setuju?

Apakah Anda akan menuruti keinginan mereka? Jika Anda ingin menjaga kedamaian dalam keluarga, lakukanlah! Tetapi jika Anda telah cukup umur untuk mengambil keputusan yang dewasa dan bertanggung jawab, dan Anda berpikir itulah keputusan yang tepat, lalu bagaimana?

Apapun yang Anda lakukan, jangan sia-siakan waktu untuk memperlihatkan rasa hormat kepada orangtua Anda (Efesus 6:2-3), bahkan jika Anda tidak sepakat dengan mereka. Beri waktu bagi mereka untuk melihat sudut pandang Anda. Bicarakan hal ini dengan mereka. Temukan alasan sebenarnya mengapa mereka tidak ingin Anda menikah dengannya, dan seterusnya. Mungkin saja mereka merasa adanya kerusakan karakter yang serius atau beberapa masalah yang tidak Anda sadari. Berikan mereka sedikit waktu untuk melerai keragu-raguan ini. Mintalah Tuhan menolong Anda dan orangtua Anda melihat permasalahan dengan jelas. Tunjukkan kasih dan hormat Anda kepada mereka.

Langkah Ke-7: Sekarang buatlah keputusan dengan tenang.
Yang perlu anda pertimbangkan sebelum memutuskan:
  • Sudah berapa lama anda mengenalnya?
  • Sudah berapa lama anda pacaran dengannya?
  • Sudah berapa kali dia menyakiti anda?
  • Apakah Anda siap menerima dia apa adanya?
  • Apakah Anda siap menerima resiko diluar perhitungan anda.
  • Siapkah nanti anda bersama dia,  selamanya … ?

Lebih baik telat jodoh daripada salah jodoh !!!

1 comment:

  1. tips nya keren bgt. visit blog akuu ya
    http://deanara16.blogspot.com/

    ReplyDelete

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.