<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Mampus Aku Diinterogerasi Paman Bumba

Tuesday, January 12, 2016

Mampus Aku Diinterogerasi Paman Bumba

Kisah ini bermula dari tanggal 2 Januari 2016. Pagi jam 9 aku, Kakak dan Mamaku Tahun baru ke rumah sepupuku, Grice. Setelah dari sana, lalu aku pulang. Sedangkan Mama dan Kakak ke rumah paman Bumba.


Paman Bumba bukanlah paman kandungku, ia hanya satu marga dengan Mamaku. Kalian tahu bukan, apa maksudnya. Tapi kalian jangan berpikir yang bukan-bukan. Karena aku juga tidak berpikir yang bukan-bukan.

Aku tidak menyuruh Mama dan Kakakku ke rumah paman Bumba, mereka sendiri yang punya inisiatif.
Di tanggal 5 Januari 2016, entah kenapa aku pergi ke sebuah toko buku membeli amplop coklat dan double folio untuk surat lamaran kerja. Singkat cerita, jam 8 malam handphone ku berdering. Ternyata Kakakku yang menelepon aku.
“Ada apa Kak?”, tanyaku.
“Jemput Kakak dan Mama sekarang”, suruh Kakakku.
“Memangnya ada apa”, tanyaku lagi.
“Baru saja paman Bumba mengirim SMS ke Kakak, dia menyuruh kita sekarang ke rumahnya, ada lowongan kerja” beber Kakakku.
“Oh, OK”, ujar ku.

 Padahal waktu itu Kakak dan Mamaku sedang Tahun Baru ke rumah tetangga di perumahan sebelah. Lalu Aku dan Kakakku (kak Rosna) pergi ke rumah paman Bumba dengan membawa berkas lamaran kerja lengkap di tas ku. Rumah paman Bumba tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya sekitar 10 menit jika naik motor. Sesampainya kami di rumah paman Bumba, anak pertama paman Bumba, Ruci, membuka pintu rumah mereka.
“Oh Kak Rosna, silahkan masuk”, ujar Ruci sambil tersenyum.

 Aku pun ikut masuk. Di rumah paman Bumba ada anak-anaknya, kecuali anak nomor 2. Si anak pertama, tebar-tebar pesona. Haha. Gila aku ini, kepedean sekali ya aku. Si anak ke dua sedang menjalani kuliah di kota lain. Anak ketiga, asyik menonton televisi bersama anak keempat. Ketiga anak paman Bumba berjenis kelamin perempuan, sedangkan anak bungsu berjenis kelamin laki-laki. Setelah kami dipersilahkan duduk, datanglah paman Bumba bersama istrinya dari ruang tengah.
“Siapa namamu?”, paman Bumba bertanya padaku.
“Rinus, paman,” jawabku.
“Oh iya, tadi Ruci sudah cerita, cuma paman lupa,”
“Ini ada lowongan kerja, mana tahu bisa masuk” sambung paman Bumba sembari menyodorkan sebuah koran harian lokal kepadaku.
Aku ambil koran itu dan saat aku membaca iklan lowongan pekerjaan yang tertulis di koran itu. Aku sempat terkejut dalam hati.
“Sepertinya iklan ini tidak asing bagiku”, kata ku dalam hati.
Setelah aku membaca ulang, dan mengingatnya. Aku sangat yakin iklan lowongan ini pernah aku baca di tahun lalu, tahun 2015. Iklan lowongan itu merupakan iklan dari sebuah bank, kita sebut saja bank X. Bank yang mencari pelamar kerja di bagian Account Officer dan Head Office. Jabatan yang sama, hanya tahunnya saja yang berbeda. Dulu aku pernah memasukkan lamaran ke sana, aku saja masih ingat di mana letak bank itu. Tapi aku berpura-pura bodoh di depan keluarga paman Bumba. Di depan mereka aku hanya mengangguk-angguk. Karena tak enak hati jika aku mengatakan kepada paman Bumba jika aku sudah pernah memasukkan lamaran ke bank X. Jikalaupun aku mengatakannya, paman juga akan berkata tak ada salahnya aku memasukkannya lagi.

 Tapi aku cukup terenyuh melihat kisah ini. Aku kira paman Bumba akan memberikan lowongan kerja yang bagaimana, atau sedikit bagaimana. Ok lah mungkin paman tidak terlalu yakin dengan aku. Atau takut malu jika paman memasukkan aku ke kantor tempat paman bekerja. Atau minimal memberikan informasi lowongan kerja di perusahaan lain yang dikenal. Tapi ternyata eh ternyata. Hanya lowongan kerja yang tertulis di koran. Aku kira pekerjaan yang bagaimana. Aku hanya berpura-pura tidak tahu saja. Mamaku juga lumayan kecewa. Kami kira disuruh ke rumahnya karena dia mau memberikan lowongan kerja yang bagaimana. Paman Bumba saja tidak mau memberikan korannya kepadaku. Dengan alasan ada keluarga dia yang mau melihat juga lowongan itu. Aku hanya positif thingking saja. Padahal biasanya aku selalu negatif thingking. Aku sudah malas mau mengantar lamaran ke bank itu. Sudah lesu. Istilahnya merajuk, ckck. Kecewa sangat luar biasa besar. Sok lebay aku ini. Aku seakan-akan tidak tahu apa-apa, tidak update info lowongan kerja. Padahal aku ikut sebuah grup lowongan kerja di facebook. Yang hampir di tiap harinya ada lowongan kerja di posting. Tadi pagi saja aku ke kantor pos Angso Duo. Tapi sayangnya tak ada lowongan yang aku suka. Banyak jabatan sales.

 Memang dari dulu, awalnya aku paling malas meminta tolong kepada orang lain. Selama aku bisa melakukannya sendiri, buat apa aku meminta tolong orang lain. Termasuk masalah mencari kerja. Aku ingin mencari sendiri, benar-benar usaha aku. Jadi jika aku mau resign (keluar), aku tak perlu lagi meminta izin ke orang yang memberikan aku kerja. Mau keluar saja, bingungnya minta ampun. Dulu paman Ipen memberikan aku syarat jika aku ingin keluar. Seperti melarang aku untuk keluar. Suka-suka aku dong mau keluar atau tidak. Aku ini seperti elang, bebas terbang ke manapun dan kapanpun. Cukup paman Ipen saja, orang terakhir yang memberikan aku kerja. Jangan ada lagi orang kedua.

 Setelah ku pikir-pikir, tak seharusnya aku kecewa. Karena sudah baik mereka memberikan informasi. Tapi tetap saja aku jadi malu sendiri. Takut kalau besok-besok aku bertemu mereka dan mereka bertanya. Aku mau jawab apa coba? Kalau aku berkata sudah, aku setengah berbohong. Kenapa setengah berhohong, soalnya dulu aku memang sudah memasukkan lamaran kerja di sana. Beda cerita jika paman bertanya dengan pertanyaan spesifik ke waktu (tahun ini). Jadi jika paman tidak bertanya tentang waktu, aku tidaklah berbohong. Hanya permainan kata-kata. Tapi jika aku jawab belum, mereka akan kesal ke aku. Sudah dikasih informasi, tapi tidak dihargai. Jadi serba bingung. Aduh, aku ini dasar manusia yang tak tahu diuntung. Sudah dibantu tapi tidak berterimakasih. Sudah untung ada orang yang mau membantu secara sukarela. Padahal jika orang lain, mana peduli.

 Satu hal yang paling memalukan, yang terjadi di rumah paman Bumba. Paman Bumpa bertanya kepadaku: "apa aku sudah memasukan lamaran kerja ke sebuah instansi Z ?"
Lalu aku jawab: "tidak, ada syarat yang kurang".
Lalu paman bertanya lagi: "syarat apa yang kurang?"
Aku sempat terdiam sejenak. Aku tak ingin menjawab, tapi tak mungkin aku tak menjawab. Aku dalam posisi terdesak. Lalu aku jawab dengan berat hati: "IP (indeks prestasi)".
"Memangnya IP yang diminta berapa?" tanya paman Bumba.
Aku kembali terdiam sejenak dan berkata, "Aku lupa". Padahal aku sengaja ingin mengalihkan perhatian paman Bumba, berharap paman tidak lagi melanjutkan pertanyaan. Tapi, dan tapi.
"Di atas 3?" tanya paman lagi.
"Iya" jawabku.
"Memang IP kamu berapa?" pertanyaan pamungkas.
Dengan berat hati aku menjawab, "hanya 2,9".

 Oh my God. Ada-ada saja paman bertanya seperti itu. Mau aku taruh di mana mukaku ini. Ketahuan jika aku bodoh. Padahal dalam hatiku berkata, “Memang banyak orang yang menilai pintar atau bodohnya mahasiswa dari IP, tapi ada juga sebagian orang yang beranggapan jika kuliah berbeda dengan sekolah, dan memang mau tidak mau mahasiswa harus mengakui dirinyalah yang salah”. Padahal saat aku di SMA, 3 tahun duduk di kelas unggul. Dan aku mengambil jurusan IPA. Meskipun sekolahku bukanlah sekolah unggulan. Tapi setidaknya aku tidak bodoh sekali. Cukuplah. Dalam sekali pertanyaan paman Bumba. Dia bertanya atau mau interogerasi? Secara Masif dan menghanyutkan. Wajar saja botak di kepala depannya. Haha, aku tidak bermaksud ingin mengejek. Sepertinya memang paman orangnya pintar. Salutlah. Pantas saja paman bisa bekerja di sebuah bank swasta. Sebenarnya apa maksud paman menyuruh aku datang? Penasaran dengan aku? Haha. Kepedean sekali ya aku. Saat kami mau pulang, barulah anak ketiga paman, Yala membalikkan kepalanya melihat ke arah kami. Karena dari tadi Yala dan adiknya menonton televisi sambil membelakangi kami. Anak bungsu masih mau menyalami Kakakku. Sedangkan Yala tak mau. Sombong amat, hehe. Kami tak mau berlama-lama di rumah paman Bumba, hanya sekitar 20 menit saja.


 Di tanggal 20 Januari 2016. Sebenarnya aku malas pergi ibadah ke gereja. Soalnya aku merasa ada yang tidak enak yang akan terjadi. Tapi aku kasihan jika melihat Mamaku jadi tidak pergi, jika aku tidak pergi. Paman Bumba adalah salah satu pelayan di gerejaku. Dan hari ini dia sedang bertugas. Dan saat pulang, dirinya menyalami jemaat yang mau keluar gereja. Lalu saat Mamaku menyalam paman Bumba. Paman Bumba bertanya kepada Mamaku, "sudah dimasukkan (surat lamaran kerja)?
Lalu Mamaku menjawab, "sudah".
Kemudian paman Bumba bertanya lagi, "sudah?".
Mamaku menjawab sambil memegang rambutnya, "sudah".

 Menurut aku paman Bumba paham betul dunia psikologi, membaca bahasa tubuh. Dia tahu jika bahasa tubuh Mamaku, tidak wajar, ada yang disembunyikan. Aku yakin paman Bumba tahu jika setelah aku dan Kakakku ke rumahnya. Aku belum memasukkan surat lamaran kerja ke bank X. Padahal tidak ada yang berbohong, termasuk Mamaku. Soalnya tahun lalu aku sudah memasukan lamaran kerja ke bank itu. Jadi Mamaku tidaklah berbohong. Lalu Mamaku memaksa aku, agar besoknya aku harus memasukan lamaran ke sana. Padahal sebenarnya aku sudah malas. Memang sebelum aku dan Mamaku pergi ke gereja. Aku sudah punya firasaat, jika kami akan bertemu paman Bumba atau keluarganya. Dan saat kami masih di rumah. Aku sudah memberitahukan kepada Mamaku, jika seandainya nanti di gereja, bertemu paman Bumba, dan ditanya apakah aku sudah memasukkan lamaran kerja ke bank. Aku menyuruh Mamaku untuk menjawab sudah. Tidak ada kebohongan, karena memang aku sudah pernah memasukkan lamaran ke sana. Dan tidak ada hasil. Padahal saat Mamaku menjawab pertanyaan paman Bumba. Seharusnya Mamaku tidak perlu menjawab sambil memegang rambutnya. Terlalu mudah dibaca kegelisahan Mama. Karena memang Mamaku orangnya sangat polos apa adanya. Sedikitpun tidak paham apa itu politik. Seharusnya Mamaku menjawab dengan santai, jangan merasa di posisi tersudut. Karena tidak ada yang melakukan kebohongan, hanya permainan kata saja.

 Tanggal 11 Januari 2016. Karena Mamaku sudah memaksa aku untuk memasukkan surat lamaran ke bank X. Akhirnya Pagi jam 8 aku menulis dan melengkapi berkas surat lamaran kerja. Lalu jam 9 saat mau aku antar surat lamarannya. Sudah sampai di depan bank. Eh, salah namanya bank. Aduh. Terpaksa tulis ulang di rumah dan antar lagi. Kemarin saat di rumah paman Bumba. Sudah aku foto iklan lowongan kerjanya. Tapi aku tak membawa handphone besar, hanya yang kecil. Saat di rumah, foto tak bisa dibaca. Lalu aku hapus dari handphone aku. Dan tadi pagi saat aku menulis surat lamaran kerja, aku membuka mbah google. Eh ternyata beda nama bank. Mungkin sudah berubah namanya. Ada-ada saja kendala. Daripada langsung pulang tanpa hasil. Dan kebetulan aku membawa syarat perpanjangan SKCK. Aku memutuskan untuk ke Polresta, yang tak jauh dari bank itu. Pasti marah Mama kalau tahu.

 Tanggal 12 Januari 2016. Finally. Hari ini aku mulai dengan pergi ke toko fotokopi. Aku mau fotokopi ijazah S1 dan KTP. Jam 9 pagi, saat aku mau menuju bank X melewati sebuah jalan. Eh, jalannya ditutup, ada perbaikan gorong-gorong. Terpaksa aku berbalik arah dan mencari jalan lain yang lebih jauh. Sesampainya di bank X, dan aku mau masuk. Ada seorang satpam yang bertanya kepada ku.
"Ada yang bisa dibantu?", tanya pak satpam.
"Saya mau mengantar surat lamaran kerja, pak", jawabku.
"Punya sendiri atau orang lain?", kembali satpam bertanya.
Dalam hati aku menggerutu, "Ya punya aku lah".
"Punya saya sendiri pak", jawabku dengan tegas dan sedikit kesal.
"Oh, titip sama saya saja", kata satpam.
"Ya, ini pak".
"Sudah lengkap bahannya?"
"Sudah pak".
"Ok lah kalau begitu" ujar pak satpam seraya masuk ke dalam bank.
"Terima kasih pak," kataku sambil tersenyum dan pergi menuju motorku yang terparkir di depan bank.

Sesampainya aku di rumah, Mamaku bertanya kepada ku.
"Sudah kau masukkan?"
"Sudah, Mak", jawabku.

Akhirnya selesai sudah perkara.

2 comments:

  1. gan ceritanya masih ada logika loncat, jadi kadang harus membaca ulang postingannya baru deh ngerti, makasih ya gan terus berkarya dengan postingan berkualitasnya

    salam cinta dan romansa
    Lukman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya nih, masih baru nulis. Terima kasih atas sarannya saudara lukman......

      Delete

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.