<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Mengapa Mereka Merasa Aku Mendekatinya?

Sunday, January 24, 2016

Mengapa Mereka Merasa Aku Mendekatinya?

Aku kesal saja. Jika mendengar ada keluarga si wanita (abangnya apalagi ibunya si wanita) yang merasa aku sedang mendekati adik perempuannya/anak perempuannya. Dan mereka berkata yang tidak semestinya mereka katakan kepada ku.



Ada seorang pria (abangnya si wanita) yang berkata kepada ku: "Apa kau tak malu mendekati wanita, sedangkan kau sedang menganggur?".
Coba kalian pikir, apa maksud dari perkataan dia?
Dan salah satu ibu (ibunya si wanita) juga pernah berkata kepada ku: "Pria itu harus bertanggung jawab".

Apa hak mereka menyindir aku yang sedang menganggur? Aku tidak bangga menganggur. Sebenarnya aku malu menyandang predikat pengangguran. Tapi saat ini gerak ku terbatas. Maju kena, mundur kena. Ibarat buah simalakama. Karena ada banyak hal yang membuat aku harus berhenti sejenak, sebelum bergerak bebas seperti dulu kala.
sendiri lagi


Aku bingung melihat mereka, mengapa mereka sangat merasa aku sedang mendekati adik perempuannya/anak perempuannya. Padahal tidak ada satu wanita pun yang saat ini aku dekati. Jangankan mendekati, niat saja belum ada.

Aku tidak mungkin sebodoh itu. Apa mereka pikir aku ini tak punya otak? Saat aku dulu masih kerja saja, tidak ada niat aku untuk mendekati wanita. Bukan karena aku sudah sakit, penyuka sesama jenis. Tapi karena aku tahu. Ada pepatah yang mengatakan, rumah tangga itu tidak sederhana, karena yang sederhana itu rumah makan.

Aku bukan ingin merumitkan segala hal, tapi aku hanya tak ingin terlalu menyederhanakan segala hal. Termasuk jodoh.
Tak sesederhana: "Wah ada wanita cantik, dekati ah." bukan masalah cantik atau tidaknya. Tapi ada banyak hal lain yang harus dipertimbangkan.
Dan juga tak sesederhana: "Aku suka kamu, kamu mau tidak jadi pacar aku". Tapi ada banyak hal lain yang harus ditanyakan.

Aku tidak mencari pacar (pacaran) tapi aku mencari pasangan. Yang mau diajak melihat jauh ke depan. Aku juga mencari wanita yang mau dari bawah (nol). Karena saat ada wanita yang hanya mau menerima saat pria sudah di atas. Ada kemungkinan sang wanita akan meninggalkan si pria, saat sang pria terjatuh (bangkrut).

Ingin sekali rasanya aku kontani (labrak/blak-blakan) ke mereka. Tapi tak bisa, menjaga hubungan pertemanan yang sudah cukup lama. Dan aku tak ingin hanya masalah kecil ini, aku kembali kehilangan sahabat. Cukup sudah. Karena aku semakin mengerti, akan pentingnya seorang sahabat. Sahabat adalah segalanya, dan juga keluarga.

Kenapa ya, aku semakin sering mudah tersingung? Padahal belum tentu aku yang disinggung. Mengapa semakin hari, aku semakin menelaah kata per kata ucapan orang lain kepada ku? Apa karena aku yang tidak punya kerjaan? Jadi kerja ku ya mencerna makna pembicaraan orang lain. Apa aku salah, menelaah setiap kata yang keluar dari bibir mereka? Apalagi abang tertua si wanita, memiliki bahasa tingkat tinggi. "Sindiran dalam pujian". Dia bekerja di dunia psikologi, tapi dia enggan untuk mengakui jika dia termasuk orang psikologi. Sama seperti saat dia yang enggan mengakui jika dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak lepas dari politik. Dia begitu antipati dengan yang namanya politik.

Memang baik adanya yang mereka katakan itu.
Mungkin mereka hanya bermaksud memberikan aku sebuah nasihat baik. Lalu timbul pertanyaan dalam benakku: "Apa beda titah dan petuah? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, titah adalah kata, perintah (biasanya dari raja) yang harus dipatuhi. Sedangkan petuah adalah pelajaran (nasihat) yang baik (menganjurkan).

Padahal di mana pun, saat aku bertemu dengan wanita itu. Aku selalu cuek kepadanya. Aku selalu bersikap "cool". Kalau kata abangnya si wanita yang satu lagi: "cool-ang pelhatian (kurang perhatian) dan cool-ang pelgaulan (kurang pergaulan)". Dia juga berkata aku ini hanya pintar berteori, sok perfeksionis, sok konsisten. Itu hak dia menilai aku. Dan hak aku mengatur diriku sendiri.

Dan mungkin sekarang aku kena hukum karma, aku menjilat ludahku sendiri. Memang masih ku ingat jelas. Jika dulu aku pernah mengejek/menyindir abang si wanita. Aku mengejek abangya, apa tidak bosan hanya di rumah terus. Karena pada saat itu abangnya sedang menganggur, sedangkan aku sudah bekerja. Dan sekarang, akhirnya aku berdiri di posisi abangnya, aku merasakan apa yang dirasakan abangnya. Memang benar ada pepatah yang mengatakan: "mulut mu harimau mu".

No comments:

Post a Comment

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.