<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Rujukan Rumah Sakit Swasta Poli Orthopedi

Wednesday, January 20, 2016

Rujukan Rumah Sakit Swasta Poli Orthopedi

Bredmart ingin cerita pengalaman rujukan ke rumah sakit swasta poli orthopedi.
Tanggal 18 Januari 2016 pagi jam 8. Aku pergi lagi ke puskesmas. Sebelumnya aku sudah ke sana di tanggal 15 Januari 2016. Dokter hanya memberikan ku obat (Piroxicam dan Ranitidine).

Tapi obatnya tak aku minum, malas. Untung saja ibu dokter yang memeriksa aku kemarin tidak ada di ruangan. Jadi aku diperiksa oleh dokter yang berbeda, tapi tetap ibu-ibu. Mungkin hari ini hari keberuntungan aku. Aku jadi bisa langsung minta surat rujukan ke rumah sakit.
"Sakit apa?" Tanya ibu dokter itu kepadaku.
"Keseleo bu, lanjutan yang hari Jumat kemarin," jawabku.
"Oh."
Aku langsung putar otak, bagaimana caranya agar aku tidak kontrol ulang lagi ke puskesmas. Aku maunya hari ini bisa langsung diberikan surat rujukan ke rumah sakit.
"Kemarin kata dokter sebelumnya, mau rujukan ke rumah sakit," ujar ku sambil meyakinkan dokter itu. Padahal kata dokter yang pada tanggal 15 Januari 2016, aku harus 2 kali periksa di puskesmas, baru bisa dirujuk ke rumah sakit. Hehe. Bohong sedikit.
"Mau rujuk ke rumah sakit mana?" Tanya dokter sambil membaca sebuah lembaran kertas yang tertulis daftar semua rumah sakit di kotaku.
Lalu aku memilih sebuah rumah sakit swasta. Aku belum pernah berobat ke sana. Biar pernah sekali periksa di sana.
"Silahkan ke TU," ujar dokter.
"Terima kasih bu."
Aku naik tangga ke lantai atas, ke ruang tata usaha (TU). Di sana, surat rujukanku diketik oleh seorang perawat. Tak lama surat itu diberikan kepadaku. Penasaran, aku membaca surat rujukannya. Ternyata aku dirujuk ke poli orthopedi, dengan diagnosa: acquired deformity muskuloskeletal. Rada bingung dengan arti tulisan itu.

rumah sakit

Langsung saja aku menuju ke rumah sakit swasta itu. Sesampai di rumah sakit, aku ke lantai bawah untuk memarkirkan motorku. Dan aku cukup bingung mencari ruang poli orthopedi.
"Bu, ruang orthopedi di mana ya?" Tanya ku kepada seorang perawat.
"Di sana, tapi jam 4 sore baru buka."
"Aduh," kata ku di dalam hati.
Padahal pada saat itu masih jam 11 siang. Dengan rasa sedikit kesal, aku langsung pulang ke rumah.

Aku balik lagi ke rumah sakit jam 5 sore.
"Mau ke poli orthopedi," ungkap ku ke seorang perawat.
"Sebenarnya mau tutup, tapi kita coba saja," kata perawat.
"Loh, katanya buka jam empat."
"Iya ini mau tutup jam 6, soalnya jumlah pasiennya dibatasi," katanya lagi.
"Fotokopi kartu BPJS nya ada?" tanya perawat.
"Aduh," kata ku dalam hati. Aku hanya membawa kartu BPJS yang asli, belum aku fotokopi. Terpaksa aku pergi mencari tempat fotokopi. Padahal pendaftaran pasien mau tutup sebentar lagi.
"Pak, fotokopi dekat sini di mana ya?" Tanya ku kepada seorang satpam yang sedang berjaga di pos satpam.
"Di sebelah sana," jawab satpam sembari menunjuk ke arah kiri seberang rumah sakit.
"Terima kasih pak."
"Sama-sama."
Aku berlari menuju fotokopi. Untung saja bisa cepat. Lalu aku balik lagi ke rumah sakit.
"Ini bu fotokopi BPJS nya," kata ku sambil memberikan fotokopi kartu BPJS.
"Mana fotokopi KTP?"
"Apa, KTP, tak bawa," jawab ku.
"Tadi saya sudah katakan, fotokopi BPJS dan KTP," celetuknya.
Aku hanya bisa terdiam, sambil mengingat-ingat. "Apa iya tadi dia juga menyuruh fotokopi KTP?" Tanya ku dalam hati.
"Lain kali jangan lupa bawa KTP," nasehat dia.
"Iya bu."
Seperti biasa menunggu antrian. Suntuk dan mengantuk. Tiga puluh menit kemudian, namaku dipanggil. Aku masuk ke poli orthopedi, duduk seorang dokter dengan tubuh gendut.
"Sakit apa?" Tanya pak dokter.
"Keseleo pak, sudah hampir dua bulan," kata ku sambil menunjukan pergelangan tanganku yang sebelah kanan.
Setelah panjang lebar ku jelaskan. Kalau aku tak salah ingat, lalu pak dokter berkata, "otot kamu robek, tapi bukan robek kertas, hanya merenggang," ujar pak dokter. Pak dokter dengan sabarnya menjelaskan panjang lebar tentang penyakitku. Tapi aku ragu kata dokter nama penyakitku ini muscle strain atau sprain. Soalnya setelah aku pulang ke rumahku. Aku langsung browsing ke mbah google. Meskipun muscle strain atau sprain hampir mirip, tapi berbeda. Kalau aku baca di internet. Aku sakit muscle sprain, tapi kalau tak salah dokter berkata muscle strain. Mana yang benar ya, apa aku yang salah mendengar?
Aku orangnya sering penasaran, bukan bermaksud tidak percaya. Tapi sering apa kata dokter, lalu aku cari tahu di internet. Hanya ingin mencari tahu saja.
Balik lagi ke sprain atau strain. Saat aku membaca beberapa artikel di internet, Sprain adalah cedera karena regangan berlebihan/robekan pada ligamen (penghubung antar tulang). Sedangkan Strain adalah cedera karena regangan berlebihan/robekan pada otot maupun tendon (penghubung tulang dan otot).

Setelah konsultasi ke dokter, aku disuruh ke ruang apotik untuk mengambil obat. Ada ibu-ibu yang bertanya, berapa harga obatnya. Apoteker mengatakan harga obat ibu itu Rp 4 juta-an. Wow. Langsung jantungku, dag dig dug. Jadi obatku, mahal juga tidak ya? Setelah apoteker menyerahkan obatku. Ternyata semua gratis. Aku baru ingat, aku sudah terdaftar di BPJS. Syukurlah tak ada bayar.

Aku melihat obat yang ku ambil di apotik rumah sakit. Ada dua jenis obat, yakni Meloxicam dan Glucosamine MPL. Malamnya obat itu aku minum. Padahal dari dulu aku paling malas minum obat. Tapi karena sudah hampir dua bulan, tanganku tak juga sembuh. Dan karena dibujuk Mamaku. Akhirnya aku minum juga obatnya...

No comments:

Post a Comment

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.