<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Tak sengaja Ke Rumah Hani

Tuesday, February 2, 2016

Tak sengaja Ke Rumah Hani

Tanggal 1 Februari 2016. Sekitar jam 2 siang, Bredmart tak sengaja berkunjung ke rumah Hani, mantan Adikku. Oh No! Tak disangka-sangka. Haha. Langsung aku kirim SMS ke Kakak dan Adikku. Memberi tahu jika Aku dan Mamaku berada di rumah Hani.

Mari kita kilas balik, awal mengapa aku bisa berada di rumah Hani. Hari ini seperti biasa aku dan Mama pergi ke daerah Bagan Pete mencari tanah yang dijual. Karena sudah sejak lama Mamaku ingin punya rumah di tanah yang luasnya 3 hingga 5 tumbuk. 1 tumbuk setara 100 meter persegi (10 meter x 10 meter). Soalnya rumah kami yang sekarang di daerah Terminal Baru sangat sempit, luas tanahnya hanya 1,1 tumbuk. Dan sudah sebulan ini aku dan Mamaku gencar mencari tanah. Tapi tak ada satu pun yang cocok di hati.

Bahkan yang anehnya lagi. Tadi pagi sekitar jam 9, aku mengajak bertemu pakang atau makelar tanah yang sebelumnya aku tolak penawarannya. Dia menawarkan beberapa tanah dan rumah. Tapi tak satu pun yang bagus, semua jelek. Padahal sebelumnya aku sudah berbohong ke dia. Aku berkata ke dia, jika keluargaku sudah membeli tanah di tempat lain. Cara agar menolak tawaran dia. Agar aku tidak dihubungi lagi sama dia. Eh tadi pagi aku bertemu lagi dengan orang yang sama. Malunya itu yang berat, bertemu dengan makelar yang sama.

"Loh, bukannya kemarin katanya sudah dapat?" Kata si makelar dengan ekspresi wajah penuh curiga. Aku pun bingung mau menjawab apa.
"Iya." Kata ku dengan nada cetus bercampur malu. Terpaksa aku berbohong.
"Lalu tanah ini untuk siapa?"
"Untuk tetangga," kataku dengan muka lemas. Haha. Sangat memalukan. Bodohnya aku yang tak melihat dulu nomor ponsel si pakang/makelar tanah. Aku langsung telepon dari ponsel Mamaku. Padahal sebelumnya aku menelepon dia pakai ponselku. Oleh karena itu aku tak tahu jika dia orang yang sama. Aduh, aduh, aduh.

Ayo kita lanjutkan ceritanya.
berkunjung ke rumah

Dan siangnya sekitar jam 2 siang. Aku dan Mamaku pergi lagi berputar-putar mengelilingi daerah Bagan Pete. Dari satu rumah ke rumah yang lain. Bertanya ke warga di sana, tanah mana yang dijual. Singkat cerita aku dan Mamaku memasuki sebuah rumah sederhana, ada warungnya. Ada sebuah, eh seorang. Haha. Seorang ibu yang duduk di teras warungnya. Ada juga 2 bocah laki-laki yang sedang bermain catur.
"Permisi," kata Mamaku menyapa ibu itu.
"Iya, silahkan masuk," ujar ibu itu.
Kami pun masuk ke dalam rumahnya. Ada suami ibu itu di dalam rumahnya.
"Silahkan duduk," kata suami ibu itu. Ternyata suami ibu itu satu marga dengan Mamaku. Kalian tahu bukan apa artinya?

Ok lanjut. Seperti biasa kalau aku masuk ke rumah orang lain. Yang pertama aku lihat adalah bingkai foto yang terpajang. Mana tahu ada anak perempuannya yang cantik. Hehe. Nah, ternyata ada anak perempuannya. Tapi. Setelah aku lihat-lihat, kok seperti kenal ya.
"Tak salah lagi, ini pasti foto Hani, rumah Hani," kata ku di dalam hati.
Oh No. Mau segera pulang, tapi sudah terlanjur masuk. Tapi untung saja bapaknya Hani langsung mengajak aku untuk melihat sebidang tanah yang tak jauh dari rumahnya. Dia tidak bisa membawa motor. Lalu aku yang membonceng dia. Tapi jelek tanah yang ditunjukkannya. Lalu pulang lah kami balik ke rumahnya. Lalu giliran Mamaku melihat tanah itu.

Di tengah perjalanan, di atas motor. Mamaku cerita jika tadi Mama ngobrol sebentar dengan Hani.
"Kok sepertinya kenal ya, mamanya ristina ya?" kata Mamaku meniru gaya bicaranya Hani.
"Iya, kok tahu?" Mamaku balik bertanya kepada Hani.
"Aku mantan muridnya ibu ristina," kata Mamaku kembali meniru gaya bicaranya Hani.
Mamaku juga bercerita jika tadi waktu Mama di rumah Hani. Hani sempat berteriak ketakutan. Ternyata ada tikus di kamarnya.
Berarti Hani sangat takut dengan tikus. Haha. Masak sudah besar, sudah kuliah, sudah calon ibu, tapi masih saja takut dengan hewan kecil. Lucu sekali lah.
"Mungkin dia mau mencari perhatian Mama," kata Adikku.
Tapi tak boleh berprasangka buruk. Mana tahu dia memang dari dulu takut tikus. Bukan karena mencari perhatian.

Betul bukan prediksi aku. Tak salah lagi itu pasti rumah Hani.
Setelah melihat tanah itu, kami tak balik lagi ke rumah Hani. Aku malu. Padahal seharusnya kami balik lagi, tak sopan jika langsung menghilang. Sedikit sedih. Padahal aku ingin sekali bertemu langsung dengan dia. Sedikit lagi aku bertemu Hani. Kurang beruntung. Mungkin lain kali, aku bisa bertemu langsung dengan dia. Haha. Seperti berani saja aku ini, padahal pria penakut. Paling takut kalau bertemu dengan wanita.

Sesampainya Aku dan Mamaku di rumah kami. Kami bercerita kepada Adikku. Dia langsung bereaksi.
"Mengapa di sana?" tanya Adikku.
"Di situ tanahnya bagus, datar," jawab Mamaku.
Soalnya mungkin Adikku sedikit enggan menjadi dekat dengan mantan. Tapi setelah Aku dan Mamaku membujuk Adikku. Akhirnya Adikku pun setuju jika kami membeli tanah itu. Tapi memang belum pasti, masih tanya-tanya. Memang tanahnya mengahadap matahari terbit. Bagus lah.


No comments:

Post a Comment

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.