<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Disangka Penyakitan Tuberculosis (TBC) Dan Pneumonia

Monday, March 14, 2016

Disangka Penyakitan Tuberculosis (TBC) Dan Pneumonia

Bredmart mau menceritakan sebuah kisah disangka penyakitan Tuberculosis (TBC) gara-gara tubuh bredmart yang kuris kering. Berawal di tanggal 4 Maret 2016 saat bredmart ke sebuah pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), konsultasi ke dokter.



Saat ibu dokter menyuruh bredmart membuka baju dan melihat dada bredmart yang memang terlihat tulang belulang. Hampir tak ada kulit lagi. Dokter menduga aku sakit TBC, dan menyuruh aku untuk ke laboratorium puskesmas. Petugas laboratorium menyuruh aku menjalani tes TBC. Aku diberi 2 botol tes berukuran kecil, bertuliskan jam 6 dan 8 pagi.

"Nanti malam sebelum tidur, minum teh manis (gula), lalu besok paginya jam 6 pagi memasukkan dahak ke botol pertama. Lalu jam 8 kembali masukkan dahak ke botol kedua. Lalu antar ke sini." Kata petugas laboratorium puskesmas menjelaskan panjang lebar.
"OK, bu," balasku.

tuberkulosis


Saat itu aku tak meminum obat dari puskesmas. Bukan karena aku pembangkang, tapi karena aku selalu berpikiran kritis.
"Bukankah diagnosa penyakit akan lebih akurat setelah hasil laboratorium keluar? Sehingga, bukankah pemberian obatnya akan lebih tepat setelah hasil laboratoriumnya keluar?" Tanyaku dalam hati.

Saat aku membaca beberapa artikel di internet, aku langsung dag-dig-dug. Banyak artikel yang menuliskan penyakit-penyakit yang mengerikan. Lalu aku hanya meminum obat batuk sirup rasa menthol yang aku beli di apotik
Karena sudah lebih dari sebulan aku batuk-batuk.
Malam harinya aku membuat secangkir teh manis, dan meminumnya di jam 8.
Keesokan harinya, aku menaruh dahakku ke dalam botol, sesuai perintah petugas laboratorium. Dan mengantarkannya di jam 9 pagi. "Hasil lab keluar sekitar tiga hari, hari Selasa saja ke sini lagi," ujar petugas laboratorium.

Lalu di tanggal 8 Maret 2016 pagi bredmart ke puskesmas lagi, keluar hasil tes TBC dan ternyata negatif (tidak mengidap penyakit TBC. Syukurlah. Padahal aku sudah jantungan, gelisah memikirkan TBC.
"Kamu tidak sakit TBC,"
"Tapi dahaknya tak sembuh-sembuh dok, sudah lebih dari sebulan, rujuk saja ya ke rumah sakit?" pintaku.
"Ke rumah sakit mana?" tanya bu dokter.
Awalnya aku meminta dirujuk ke rumah sakit swasta tempat aku memeriksa tanganku yang keseleo dulu. Dan tanganku memang sembuh. Tapi karena disuruh bu dokter ke sebuah rumah sakit pemerintah daerah, aku menurut saja. Tapi setelah sampai di rumah sakit tersebut, eh dokter spesialisnya (paru-paru) tidak ada. Hanya ada di hari Senin dan Sabtu saja. Wah buat kesal saja. Lalu aku balik ke puskesmas rencana mau ganti rumah sakit. Eh, tak bisa, harus menunggu satu bulan baru bisa ganti rumah sakit. Oh tidak. Padahal saat itu masih hari Selasa, berarti masih harus menunggu 4 hari lagi. Oh, tidak, lama sekali. Yang lebih membuat kesal. Setelah hari Sabtu tiba (12 Maret 2016), ternyata aku harus mengikuti tes IQ, saat aku melamar kerja di sebuah perusahaan pembiayaan kredit mobil. Mulai tesnya jam 9 pagi tapi baru selesai jam 12 siang. Padahal aku langsung ke rumah sakit. Tapi sudah pada tak ada petugasnya. Jadi aku harus datang lagi ke rumah sakit di hari Senin besok. Sabar, sabar.

Barulah di tanggal 14 Maret 2016 aku bisa konsultasi ke dokter spesialis paru-paru di rumah sakit. Jam 10 aku konsultasi ke dokter spesialis paru-paru. Lalu aku disuruh ke instalasi radiologi untuk poto rontgen. Eh ruangannya di sebelah instalasi kamar operasi, tempat Adikku dulu dioperasi. Jadi teringat rasa ketakutan saat menunggu keluarnya Adikku dari ruang operasi. Setelah foto rontgen selesai aku balik ke poliklinik paru-paru. Ini dia ┼║foto rontgen aku:

foto rontgen


"Fotonya bersih (sehat, tidak sakit pneumonia, bronkitis ataupun TBC)," kata pak dokter seraya melihat hasil foto rontgen aku.
"Jadi aku sakit apa dok?" tanyaku.
"Hanya asma saja kok,"
"Dok kalau boleh tahu, apa obat herbal untuk menghilangkan dahak?" tanyaku pada dokter.
"Jambu biji dan lemon," jawab dokter.
Mengapa aku bertanya demikian karena aku lebih senang dengan obat herbal (alami) daripada obat kimia.

Dokter menyuruh aku terapi menggunakan unit dose vial. Aku tak tahu apa tujuannya. Tapi terasa sedikit dingin, keluar seperti kabut uap air dari selang alat itu.

Kesimpulan dari kisah ini adalah: "Bila ada orang kurus kering bukan berarti penyakitan (parah). Hanya saja mungkin susah gemuk, sedikit makan, atau cacingan. Jadi jangan langsung berpikiran negatif kepada orang cungkring (kurus kering)."

Terima kasih ya Tuhan Allah, saat ini Bredmart masih sehat ....

1 comment:

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.