<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Beli Tanah Balik Nama Sertipikat Di Notaris

Sunday, April 17, 2016

Beli Tanah Balik Nama Sertipikat Di Notaris

Bredmart ingin sharing cerita pengalaman membeli tanah dan balik nama sertipikat di Notaris. Sebenarnya dulunya kami punya tanah seluas 11 tumbuk lebih di sebuah daerah. Di sana ada rumah sederhana, dan di sana lah masa kecil ku lalui.


Tapi dikarenakan sudah tak enak lagi dengan tetangga sebelah (sering bertengkar), akhirnya kami memutuskan untuk menjualnya. Menjual tanah beserta rumah, bertahun-tahun yang silam (mungkin 4 tahun yang lalu). Dan kami pindah di rumah yang sekarang. Rumah sederhana (perumahan) tipe 36 di atas tanah seluas hanya 1,2 tumbuk. Sejak itu lah Mamaku punya impian untuk punya tanah seluas (sekitar 3 hingga 5 tumbuk). Agar sedikit lapang pemandangan. Untuk jemur kain saja susah di rumah kami yang sekarang. Apalagi kalau ada pesta di rumah, motor dan mobil tamu harus diparkir di jalan dan terpaksa menutupi jalan.

Tapi kita mulai cerita ini dari tanggal 1 April 2016 saja. Karena terlalu panjang jika terlalu awal.

1 April 2016.
Jam 9 malam, Mr. S (pakang atau makelar tanah) menelepon Mamaku. Dia berkata jika kata si penjual tanah sudah setuju jika harga tanah dikurangi menjadi bla.. bla.. rupiah. Tanah yang hanya seluas 4,8 tumbuk di sebuah daerah (dirahasiakan). Tempat yang cukup sepi (pinggiran kota). Kalau kata orang, tempat jin buang anak.

Kata Mamaku, ini berita baik tepat di hari ulang tahunku.

Berarti sebentar lagi aku akan bertemu Hani. Meskipun aku sudah tidak seniat dulu. Sudah tahu, dia bukan seperti wanita yang kucari. Hani sudah sama seperti wanita yang kebanyakan, yang terpengaruh dengan modernisasi. Haha. Sok intelek bahasa aku. Yang mengerti saja yang mengerti kata-kataku.

Tanggal 3 April 2016
Pagi aku dan Mama ke rumah penjual tanah, lalu melihat tanah (patok/batas). Pas pulang ke rumah mau ambil uang muka atau down payment (DP), kami berpapasan sama Hani. Pertama kalinya bertemu, haha. Eh Mama, mama manggil dia.
"Dek, dek," kata Mamaku.
Lalu Hani membunyikan klakson  motornya.
Aduh, buat malu saja Mamaku ini.
Lalu kami bayar uang muka sebesar bla.. bla.. rupiah ke si pemilik tanah di rumah Mr. M (pemilik kapling).

Memang si penjual tanah belum melunaskan angsuran tanahnya sebesar bla.. bla.. rupiah (disensor untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan) kepada pemilik kapling. Dan pemilik kapling merupakan ketua komisi di sebuah lembaga di kotaku. Tentunya dia merupakan orang terhormat. Tapi ternyata dia masih ingin melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan.

notaris


Tanggal 4 April 2016
Pagi jam 7 aku dan Kakakku ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) di kotaku. Mau tanya-tanya tentang balik nama sertipikat. Lalu kami ke kantor notaris Mr. R, tanya-tanya biaya akta jual beli. Lalu menemui penjual tanah untuk meminta PBB (pajak bumi dan bangunan). Ternyata dia belum bayar. Kami mengurus surat keterangan belum memiliki PBB di kantor Lurah.

Tanggal 5 April 2016
Pagi sama Mama mencari notaris lain (sebagai perbandingan). Tapi akhirnya tetap menggunakan jasa Mr. R, karena kami satu suku. Kantornya lumayan mewah, berkelas. Dan tampak konsumennya rata-rata orang kaya bawa mobil, mungkin hanya kami yang bawa motor.
Aku, Mamaku, dan suami-istri penjual, mendaftarkan balik nama sertipikat. Bahan sudah selesai, ada KTP penjual (suami-istri), Kartu keluarga/surat nikah penjual, KTP pembeli, bukti pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB),  semuanya fotokopi, tentunya beserta sertipikat asli.
"Kalau sertipikat sudah di notaris, sudah tenang, tidak takut lagi sertipikat digadaikan penjual," kata Mamaku.
Benar juga yang dikatakan Mamaku itu.

Tanggal 8 April 2016
Jam 10 pagi kami ke notaris. Ada aku, Mama, cees mama, bibi Alin, penjual (suami-istri), 2 orang keluarga si penjual. Jam 11 tanda tangan akta jual beli. Dan hari ini kami melakukan transaksi pembayaran jual beli tanah. Habis sudah uang.

Tanggal 9 April 2016
Jam 1 siang aku, Mama, cees Mama, ibu penjual tanah, kami mengukur tanah pakai tali rafia (plastik) dan meteran. Tapi kurang hitungannya. Karena salah satu patok hilang. Aduh,,,, aduh.

No comments:

Post a Comment

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.