<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Suka Duka Kerja Kolektor Leasing Mobil

Saturday, April 23, 2016

Suka Duka Kerja Kolektor Leasing Mobil

Bredmart akan cerita suka duka training kerja kolektor di sebuah perusahaan leasing mobil. Mulai sekarang aku tidak mau lagi memposting hal-hal yang tidak perlu diposting.

Karena aku tidak ingin membahayakan rekan kerjaku, terlebih lagi diri ku sendiri. Aku harus pintar-pintar memilah kata-kata. Karena aku lihat, ada tambahan kunjungan ke blog aku setelah aku bekerja di perusahaan XXX. Memang bisa jadi, bukan mereka (orang-orang perusahaan), bisa jadi orang lain. Mungkin keluargaku sendiri, sahabatku, ataupun bisa jadi pengagum rahasiaku (wanita yang suka aku) haha. Yang jadi pertanyaan, memang ada ya wanita yang suka sama aku? Ya ada lah, meskipun aku jelek dan kurang pergaulan, bahkan terkesan sombong. Tapi aku yakin, masih ada wanita yang diam-diam mencari tahu segala hal tentang aku.

Mengapa aku harus jaga-jaga, karena di perusahaan tempat aku bekerja. Ada yang namanya ICU. Aku tidak tahu apa kepanjangan, siapa mereka dan apa sebenarnya kerja mereka. Tapi yang ku tahu, mereka selalu mencari kesalahan semua karyawan (kecuali kesalahan dia sendiri). Bisa saja mereka follow (membaca setiap aku memposting). Tentunya aku bukan orang bodoh, yang bisa mereka jadikan alat untuk keuntungan mereka. Yang namanya intelijen, bukan hal baru bagi aku. Meskipun masih dangkal apa yang aku ketahui. Tapi yang pasti, menelusuri data seseorang dari media sosialnya, aku juga sudah sering melakukannya. Tinggal minta tolong mbah google. Itu cara standar. Masih ada cara lain, yang tidak perlu aku ceritakan.

"Ah, bredmart itu hanya pembual besar saja, tidak ada bukti."

Mungkin itu yang kalian katakan dalam hati. Logikanya, tidak mungkin aku jabarkan cara-caranya, itu namanya menggali lubang perangkap sendiri. Namanya bunuh diri. Dasar bodoh. Kalau kalian tidak percaya, sering-sering menonton film detektif ataupun hacker, banyak-banyak membaca berita, dan sering-sering bertanya ke ahli teknologi. Tapi aku orangnya tidak pernah perduli, orang lain mau percaya atau tidak ke aku.

Ok balik lagi ke masalah pekerjaanku.

kerja kolektor


Bagi ku, bekerja di manapun. Itu ibarat naik perahu di tengah lautan. Tenang, tenang, dan tenang.
Lalu.
JeGeEeErRRRRR...rrrrrr
Tiba-tiba datang lah badai ombak menerjang kapal. Memang masih banyak yang selamat. Tapi tidak sedikit yang terhempas. Jika tak kuat berpegangan pada perahu, maka akan jatuh ke dalam laut yang dalam. Kehabisan nafas dan perlahan-lahan akan tenggelam. Itu kerasnya dunia lautan, tak punya perasaan.

Aku ibaratkan kaki tak bersendal di jalanan yang berkerikil tajam. Semua terasa mengucilkan aku. Atau aku yang mengucilkan diri ku sendiri? Entah lah.

Dari sekian banyak pengalaman, ada satu yang paling diingat. Aku mendapat kabar, jika aku diterima kerja di tempat sekarang aku bekerja. Senangnya bukan main, kalau bisa berguling-guling di tanah. Tapi karena malu dilihat tetangga, akhirnya aku mengurungkan niat itu.

Satu minggu aku baru bekerja aku merasa mengapa terasa lama sekali pulang. Aduh, sudah berkapak cacing dalam perut (lapar). Ingin makan secepatnya. Padahal biasanya selama menganggur, aku bisa makan 5 kali dalam sehari. Meskipun badanku selalu kurus, tak pernah gemuk. Terkadang timbul niat, untuk nakal. Tak peduli dengan aturan yang ada. Langsung saja pulang. Tapi tidak bisa. Aku masih baru, harus patuh dulu. Meskipun aku melihat ketidak adilan. Ya seperti itu lah hidup, tak sama seperti yang kita harapkan.

16 April 2016
Hari keenam training kolektor mobil. Aku pakai baju kaos berkerah dan celana dasar. Kata mereka kemarin, kalau hari Jumat dan Sabtu, boleh pakai kaos dan celana jeans. Pagi, kami karyawan harus menunggu di luar, karena kantor masih terkunci. Entah karena apa, aku malas mau bertanya. Aku orangnya super cuek abis. Ini yang paling buat aku kesal, menunggu. Pintu baru terbuka pukul 08.10. Menunggu sekitar 15 menit. Aku tadi bertanya Mr.M. Jika besok libur, hore. Aku kira tidak ada libur seminggu. Aku bertanya ke Mrs. N. Ternyata bukan dari mereka kelompok merah lewat rumah aku. Cerita yang sebelumnya itu. Silahkan cek postingan beberapa hari yang lalu.

Tanggal 17 April 2016
Hari minggu (libur).

Tanggal 18 April 2016
Kali kedua aku ngolek (istilah mengkolek ke rumah debitur).

Tanggal 19 April 2016
Mulai absen, ditandatangani atasan (Mr.J). Tapi belum finger print, masih manual (jam ceklok kalau mereka sebut).
Hari ini aku tanda tangan kontrak (Selama 12 bulan). Berarti aku harus mengurus surat izin mengemudi (sim).

Tanggal 20 April 2016
Biasa. Sore menemani Mr. M mengantar surat ke customer.

Tanggal 21 April 2016
Hujan dari siang, baru hari ini aku tak pulang. Hari ini, aku makan di rumah makan. Lauk ikan tomang rasa duren habis Rp.20 ribu. Mending aku makan di rumah. Sudah lebih terjamin, dan tidak buang uang.

Tanggal 22 April 2016
Pagi jam 10, aku diajak Mr. R dia coordinator collector (CC). Kami kunjungan ke rumah konsumen. Akhirnya dia menepati janjinya. Sebelumnya dia hanya berjanji, sekedar janji. Ada konsumen yang kami berikan somasi dan ada juga kami yang mengambil angsuran.

Kemarin-kemarin Mr. R berkata kepada ku, jika aku harus ingat rumah konsumen, besok jangan tanya-tanya lagi. Tapi tadi dia beberapa kali melihat gogle maps. Dasar ...(sensor).....

"Jalannya banyak simpang, sudah lama tak ke sini," kata Mr. R.

"Banyak alasan, tidak mau mengakui kesalahan sendiri, keterbatasan ingatan," kata ku dalam hati.

Aku saja lebih tahu jalan. Mengapa ada orang yang hanya pintar mengkritik orang lain tapi tidak pintar mengkritik diri sendiri?

Bukan aku sombong, tapi aku bukan orang buta jalan. Meskipun tidak banyak tahu, tapi sedikit tahu.

Tanggal 23 April 2016
Aku pergi bersama temanku, ke rumah debitur (konsumen yang kredit). Aku menemani dia dan dia menemani aku, sekalian aku belajar.

Tak terasa sudah 13 hari aku bekerja di perusahaan tempat aku bekerja. Tidak terasa membosankan, apalagi sudah boleh ke lapangan. Jadi tidak terlalu bosan, ada selingan hiburan. Asyik, asyik. Burung sudah dilepas dari kandang. Baru terasa hidup. Jiwa elang yang terbang.

OVD 30-60 hari, 20 debitur turun ke 16 debitur (selama 4 hari). Berarti berkurang 1 per hari. Puji Tuhan, ada perkembangan.

Aku sedikit kecewa dengan Mr. J. Dia head collector (HC). Dia tidak melihat hasil kerjaku. Aku tidak haus akan pujian. Dan aku lebih suka kritikan daripada pujian. Karena kritik membuat kita naik (cambukan) sedangkan puji membuat kita turun (mabuk terbuai). Tapi aku ingin dilihat perkembangan usahaku. Dari awal aku masuk kerja. Sudah ada 20 debitur di OVD 30-60 hari aku. Menurut aku angka yang banyak itu bukan lah salah aku. Tapi salah kolektor yang aku gantikan. Dan ada progres (perubahan) selama 13 hari aku bekerja.

Dan kemarin aku ditegur gara-gara move to PA (Prolem Account) tinggi yaitu 4. Padahal sejak aku masuk kerja memang sudah di angka itu. Lalu aku berkata dalam hati, salah aku di mana? Kecuali sebelum aku masuk, move to PA 3, tapi setelah aku masuk naik jadi 4. Itu baru kesalahan aku, dan harus ku akui. Kalau sekarang, aku tak terima disalahkan, bukan berarti aku pembangkang.

Aku juga ditegur karena tak mengajak CC ke lapangan. Padahal beberapa kali CC yang ingkar janji mengajak aku keluar. Aku dikritik, tanpa aku tahu di mana letak salah aku. Sabar, Bredmart, sabar.

Tapi ya sudah lah. Aku hanya bisa bersabar, sebagai bawahan yang harus selalu mengalah. Demi kebaikan.

Yang menyedihkannya, ternyata bulan ini aku tidak bergaji. Kata Mr. J dicoba diajukan insentif aku. Pasti kalian tak konek (tak nyambung). Perhatikan kata "diajukan" yang merupakan sebuah bentuk ketidakpastian. Ada dua kemungkinan, kemungkinan baiknya insentif aku akan disetujui, dan kemungkinan buruknya insentif aku ditolak alias kerja sosial (tak bergaji). Yang pasti jika benar aku tidak digaji, aku akan mogok kerja, minimal sehari. Aku dari dulu, tidak pernah merasa takut kehilangan pekerjaan. Aku bukan keras kepala. Hanya saja teguh pendirian. Tapi apa bedanya ya?

Tips agar diterima kerja sebagai kolektor. Harus bisa beradu argumen saat diwawancarai calon atasan. Tapi harus sopan dan berbobot. Karena nanti kita akan sering berdebat dengan customer / debitur. Jadi harus pandai bernegosiasi. Tidak perlu penurut sekali. Pasang muka sedikit melawan, jangan takut. Dan yang paling penting, harus jujur. Karena nanti kita akan berhubungan dengan uang, uang dan uang yang rentan dengan iblis.

Dan kalau sudah diterima kerja, banyak-banyak bertanya ke senior. Biar jangan seperti aku yang selalu disindir, karena enggan bertanya. Sekian dulu ceritanya. Besok-besok kita sambung lagi. Hehehe...hehe...

No comments:

Post a Comment

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.