<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Aku Tak Sanggup Lagi

Saturday, December 10, 2016

Aku Tak Sanggup Lagi

Aku sungguh tidak sanggup menjalani hidup. Mengapa? Di kantor banyak masalah, di rumah pun banyak masalah. Stres tingkat tinggi. Sakit kepala ini, mau pecah. Tapi rokok ataupun minuman keras bukan lah solusi. Bukan menghilangkan masalah, malah menambah masalah.



Ketidakadilan yang pertama. Aku iri melihat rekan kerjaku yang lain. Kami ada 3 divisi: marketing, administration, collector. Nah entah itu karyawan lama ataupun baru di divisi marketing ataupun administration, mereka semua tampak selalu bahagia. Berbanding terbalik dengan aku. Hampir di setiap harinya aku dimarahi oleh 2 atasanku. Aku merasa di ospek terus hingga detik ini. Sedangkan mereka (karyawan baru di divisi marketing dan administration) tidak di ospek. Mereka sangat nyaman bekerja. Tidak seperti aku yang sudah seperti mayat hidup (robot).

tak sanggup lagi


Tidak adil yang kedua adalah tentang pembagian kerja dan uang (biaya tarik/BT). Aku tidak matre, uang bukan lah segalanya bagiku. Tapi aku dusuruh kerja yang tidak ada untungnya di aku. Ya buat apa aku lakukan.

27 November 2016 Mr. R (Coordinator Collector/CC)  memberikan aku uang Rp 100 ribu. Setelah ruangan divisi collection kosong, dia memanggil aku agar ke mejanya.
"Nanti kalau ACH (area collection head) datang (ke kantor cabang kami), bilang saja CC dan CH bantu saat aku menjalankan surat tugas (ST) penarikan mobil." Beber Mr. R dengan wajah serius seakan-seakan ada yang ia takutkan.

Takut kepadaku?
Sepertinya tidak. Dia hanya takut aku menceritakan sesuatu (yang sebenarnya /apa adanya) kepada ACH yang baru berganti beberapa waktu yang lalu. Dan ACH yang sekarang mempunyai watak tegas, tidak mau berkompromi. Bagiku itu sah-sah saja. Sebagai pemimpin harus tegas, bukan keras (apalagi mulutnya).

"Bilang juga (aku) menerima uang biaya tarik (BT)," kata Mr. R sambil membuka dompetnya dan mengeluarkan uang Rp 100 ribu dan menaruhnya di meja yang berada tepat di tengah-tengah kami.
Seperti biasa aku selalu memasang muka diam seperti orang bodoh. Padahal dalam hati, aku menertawakannya. Dia takut kalau aku bernyanyi (membongkar semua skandal yang aku ketahui). Dan jabatannya menjadi taruhan.
Hahaha.... tawaku.

Dari dulu, dia cuek saja tentang BT. Sekarang dia baru menyesal dan meminta aku untuk tutup mulut saat nanti ACH datang. Yang jelas nantinya aku tidak akan bernyanyi, aku tidak mau balas dendam. Meskipun aku sakit hati yang begitu dalam ke dia. Yang dengan teganya mengambil sepenuhnya uang BT. Selama ini, sudah berapa debitur aku, yang bayar BT. Sudah berapa juta uang BT yang masuk dalam gaji dia? Padahal tidak sedikit aku memfollowup ke rumah debitur. Bahkan ada BT yang aku jemput ke rumah debitur, sebesar Rp 1 juta rupiah. Tapi tidak ada satu rupiah pun yang aku terima.

Dia memang berasal dari suku yang sangat terkenal pelitnya.
Aduh, aduh, aduh.....

Sebenarnya aku tidak mau menerima uang itu. Itu aku anggap sebagai sebuah penghinaan. Sebanyak itu ST dia, yang aku juga follow up ke rumah debitur. Padahal sudah berjuta-juta BT(biaya tarik) yang dia dapatkan. Tapi hanya seratus ribu rupiah yang dia kasih. Hanya karena aku anggap dia sebagai orang yang paling banyak membantu aku dalam mengurusi agging (account) aku. Makanya aku terima uang itu, kalau tidak, tidak akan aku ambil. Jatuh harga diri aku.

Tapi ya sudah lah, aku bukan lah manusia matre (materialistis). Tidak semua manusia menomorsatukan uang.

Kata Mr. R, bila ACH yang baru akan datang (sidak) awal tahun depan. Tapi sepengetahuan aku, dia akan datang lebih awal. Kita buktikan saja siapa yang benar.

Pantas saja beberapa hari ke belakang, dia selalu berkata jangan pulang cepat. Ternyata ada yang ingin dia katakan, dia ketakutan dan ingin segera memberikan aku uang Rp 100 ribu tersebut.
Wkwk....



Ketidakadilan yang ketiga, senior bisa ambil cuti berhari-hari bahkan ada yang sakit berminggu-minggu. Tapi aku izin sakit satu hari saja, dia sudah heboh (kebakaran jenggot).

5 Desember 2016 Aku izin sakit ke kedua atasanku, lalu Mr. J sms menyuruh aku untuk membuat surat keterangan dokter. Makin keras dia.

6 Desember 2016 pas di kantor Mr. J sungguh sangat berbeda dari yang biasanya. Dia tidak marah-marah. Dia tenang menghadapi aku.
Ada yang aneh/janggal?
Iya.
Sepertinya ada sesuatu.
Mau dipecat?
Segera akan mencari penggantiku?
Entah lah.

Sungguh menakutkan.
Aku dipaksa buat surat keterangan dokter, padahal senior yang lain biasanya tidak mengurus SKD.


Lalu apakah SKD aku urus?
Ya tidak aku urus. Logikanya.
Kalau namanya sakit ya mana sanggup (lemas) pergi ke puskesmas ataupun rumah sakit (untuk mengurus surat sakit). Kalau sanggup ke rumah sakit, dan mengantarkannya ke kantor, kenapa tidak langsung saja ke kantor? Seharusnya langsung saja ke kantor. Itu lah anehnya dunia ini.


Kalau aku pikir-pikir, kenapa Mr. R. K tidak dibantu maksimal mengurus agging (account) dia? Mengapa dia dibiarkan jelek agging (account) nya. Kenapa Mr. R dan Mr. J tidak membantu Mr. R. K.
Padahal Mr. R. K lebih luwes (mudah bergaul) dibandingkan aku. Belum lagi Mr. M (yang pintar) yang merupakan kawan dekatnya Mr. R. K.


Aku juga ingin sedikit menceritakan kisah menjalani sidang tilang STNK. Jumat 2 Desember 2016 jam 9 pagi aku minta izin ke atasanku, Mr. R.
Untung saja dia memberikan izin. Aku langsung saja aku meluncur ke gedung Pengadilan Negeri di kotaku. Parkir motor, sudah hampir penuh. Mencari ruang sidang.
"Wow, ramai sekali, lebih dari seratus orang," kataku dalam hati.
Di ruangan yang sesak dan bising, udara sangat pengap. Akhirnya aku mendapatkan kembali STNK aku setelah membayar uang denda.



Sungguh luar biasa sabar aku menerima amarah mereka. Belum lagi para senior yang terkadang mengganggu ataupun memarahi aku. Apakah karena aku tidak mau melawan?
Sakit jantung ini selalu berdetak lebih kencang saat mereka memarahiku di hampir setiap harinya.

Ingin sekali tangan ini menulis surat pengunduran diri. Tapi tahu betapa susahnya mencari pekerjaan, apalagi aku menandatangani kontrak selama satu tahun. Meskipun tak terasa sudah 8 bulan lebih. Kira-kira tinggal 4 bulan lagi.

Sebenarnya aku tak ingin menghentikan langkah di kantor ini, tapi aku sungguh tak sanggup. Aku merasa butuh ke psikiater.
Sepertinya aku sudah benar-benar gila.

Aku hanya berharap Tuhan mengetuk pintu hati mereka-mereka yang tiap harinya memarahi aku, tanpa ada rasa iba. Apakah mereka tak takut akan karma. Aku hanya bisa berdoa, Tuhan tunjukkan jalan keluar dari setiap masalah-masalah yang ku hadapi. Amien...

1 comment:

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.