<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Impian Lanjut Kuliah S2

Wednesday, March 29, 2017

Impian Lanjut Kuliah S2

Rabu 22 Maret 2016 tepatnya di pukul 21.31 di atas tempat tidur. Sambil menunggu rasa kantuk datang. Satu pertanyaan yang terlintas di kepala: kapan ya aku bisa lanjut kuliah ke S2?
Namun pertanyaan yang sebenarnya adalah: apakah aku ditakdirkan Tuhan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi?



Soalnya ada banyak bayangan ketidakmungkinan. Dari segi ekonomi tidak memungkinkan. Mengingat sudah hampir dua bulan aku mengganggur. Sambil menanti-nanti surat lamaran kerja aku di beberapa tempat. Apakah aku diterima kerja atau tidak, belum tahu. Masih harap-harap cemas.

Ditambah lagi ada firasat buruk. Sepertinya ada sesuatu dalam organ tubuh aku yang tidak beres. Kalau menurut aku antara dua kemungkinan: paru-paru atau jantung.
Terkadang saat aku menarik nafas, seperti ada yang retak di dalam dada aku. Kemungkinan besar tulang rusuk ku.
"Apa karena terlalu lama sendiri, akhirnya tulang rusuk ku jadi rusak?" tanya ku dalam hati.
Soalnya kan, pasangan itu diibaratkan tulang rusuk yang hilang.
Entah lah.
Mungkin kalian akan berkata, "Kenapa tidak cek ke dokter?"
"M-A-L-A-S," jawab ku.
"Kalau sudah ditakdirkan mau mati, ya biarkan saja. Lagipula pula kalaupun aku cek, lalu terbukti sakit, diagnosa jantung koroner, lalu?" beber ku.
"Ya kan bisa secepatnya diobati," kata kalian.
"Kalau cepat diobati, lalu? Apa gunanya?" kataku.

kuliah s2


Cukup iri hati ini saat mengetahui sudah sejak lama sepupu aku mengeyam bangku kuliah S2. Dia anak perempuan dari pamanku. Padahal dia dulu junior aku waktu kuliah S1 jurusan Bahasa Inggris  FKIP di sebuah universitas negeri di kotaku. Sebut saja nama dia Gris. Cukup tomboy dengan badan gempalnya. Dia kuliah S2 di salah satu universitas di kota Malang.

Timbul pertanyaan, siapa yang menanggung biaya kuliahnya, ada 3 kemungkinan:
1. Apakah dia sendirian yang menanggung semua uang kuliah dan biaya hidup di sana?
2. Apakah semua biaya dari orangtuanya?
3. Ataukah mereka bagi dua. 50 persen dari orangtuanya dan 50 persen lagi dari Gris sendiri. Dalam arti dia kuliah sambil kerja di sana. Keren dong kalau iya.

Ditambah lagi melihat kawan seangkatan kuliah dulu, sekarang mereka sudah sidang ujian S2.
Oh tidak......... giliran aku nya kapan ??????

Enak juga kalau aku mau menikah, jadi ada alasan tidak lanjut kuliah karena sudah ada rencana mau menikah. Jadi lagi sibuk mengumpulkan uang untuk pernikahan. Jadi belum ada rencana mau lanjut kuliah. Tapi kenyataannya miris.
Atau, enak juga kalau aku sedang bekerja. Jadi ada alasan sibuk kerja, jadi belum ada rencana lanjut kuliah. Tapi kenyataannya miris.

Kerja tidak, rencana menikah juga tidak. Jadi apa alasan aku?

Jangan-jangan aku tidak punya giliran, tidak diberi kesempatan. Keduluan meninggal sebelum menikmati indahnya menyandang gelar magister.

"Memangnya apa enaknya mendapat gelar magister?" tanya kalian.
"Ya enak lah, pastinya bangga punya pendidikan yang lebih tingi, dan kalau bisa sampai S3, pola pikir pasti menjadi lebih baik," jawabku.

"Memangnya kalau Bredmart diizinkan kuliah S2, rencana mau ambil jurusan apa?" tanya kalian.
"Ya psikologi lah, meskipun aku tahu, sangat sangat sangat sulit aku untuk menjadi psikolog (pekerjaan idaman aku)," jawabku.
"Kenapa sangat sangat sangat sulit?" tanya kalian.
"Soalnya untuk bisa menjadi psikolog (M. Psi), harus kuliah di S2 jurusan psikologi. Dan untuk  bisa masuk jurusan S2 psikologi harus S1 psikologi, tidak boleh jurusan lain. Sedangkan S1 aku bukan jurusan psikologi, tapi pendidikan (S.Pd). Kalau pun aku mau ngotot ingin meniti karir menjadi seorang psikolog. Aku harus kuliah S1 lagi (ambil jurusan psikologi)." Beberku.

Sesungguhnya S1 jurusan selain psikologi, diperbolehkan mengambil S2 jurusan psikologi, tapi hanya bisa jadi ilmuwan / praktisi psikologi. Tidak diiijinkan melakukan praktek psikolog.
Mapsi
Mapro


Mamaku sering kesal jika melihat aku sedang baca buku. Mengapa kesal?
Entah lah, kalian tanya saja langsung ke orangnya. Kalau aku menduga karena Mama aku lebih ingin aku menikah (segera menikah). Soalnya waktu aku dulu masih kerja, Mamaku juga kesal kalau aku beli-beli buku. Padahal aku hobinya membaca, kalau hobi membaca berarti hobi membeli buku dong. Aku tertariknya buku-buku tentang psikologi ataupun pengembangan diri.

"Jadi apa alasan bredmart hobi membaca dan membeli buku?" tanya kalian.
"Alasan pertama karena otak aku lebih waras, otak aku lebih memilih untuk membeli buku daripada rokok/miras/ataupun narkoba," jawabku.
"Apa iya Bredmart bebas dari rokok/miras/ataupun narkoba?" tanya kalian.
"Boleh dicek/dites," jawabku.

Alasan lain, itu merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap kedua orangtuaku (keluargaku). Tidak seorang pun dari mereka yang memperbolehkan aku untuk lanjut ke S2. Semua menentang. Tapi wajar kok, penentangan mereka. Karena aku tidak mampu membiayai sendiri kuliah aku nantinya. Jadi aku harus kerja dulu, kumpulkan uang dulu (menabung). Baru kuliah sendiri, pakai uang sendiri. Lagipula aku tidak boleh egois, hanya mementingkan diri sendiri. Adik laki-laki ku masih di tengah jalan, kuliah S1 dia. Kalau aku paksakan aku S2, takutnya mempertaruhkan adik aku. Lagipula kalau pun dia sudah lulus (wisuda).
Tidak mungkin aku terus-terusan menyusahkan kedua orangtuaku. Aku harus mandiri. Sudah beruntung, kedua orangtuaku sudah membiayai kuliah S1 aku. Masa aku tega, memaksa kedua orangtuaku untuk juga membiayai S2 aku.


"Pilih kuliah atau menikah?" tanya kalian.
"Ya pilih kuliah lah," jawabku.
Dengan tegas dan keyakinan 100 persen, aku akan lebih memilih kuliah daripada menikah. Mengapa? Karena aku lebih tertarik kuliah. Seperti ada yang tertulis: belajar, belajar lagi dan selamanya belajar. Belajar itu enak loh. Otak kita diajak untuk bekerja, untuk selalu berfungsi. Otak kita jangan dibiarkan tidur. Sayang sekali jika anugerah Tuhan yang luar biasa ini, tidak dimanfaatkan. Betul tidak?

Ada satu pertanyaan lain di kepalaku: Kenapa Aku Takut Menikah?
Apa yang salah dengan menikah?
Apa yang aku takuti jikalau aku telah menikah?
Lalu jika aku selamanya perjaka ting-ting, puas kah?
Tidak iri kah aku melihat teman-teman ataupun keluarga yang sudah menikah?
Tida ingin kah punya anak (keturunan)?
Tidak merasakah aku orang bodoh yang aneh?
Sempat terpikir di kepala ku.
Siapa yang lebih bodoh:
Aku yang takut menikah, atau mereka yang sudah menikah?
Dasar pertanyaan bodoh.

Tapi tetap saja aku masih belum mengerti, mengapa mereka semua ingin menikah?
Apa untungnya dan apa ruginya menikah itu?

No comments:

Post a Comment

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.