<!--Can't find substitution for tag [blog.pagename]--> Tips Info Blog Cinta

Tips Info Blog Cinta: Penyesalan Yang Tak Tersesalkan

Sunday, May 14, 2017

Penyesalan Yang Tak Tersesalkan

Tepat di hari ini, seminggu sudah kepergiannya. Kematiannya akan menjadi kisah yang tak terlupakan. Penyesalan Yang Tak Tersesalkan. Jikalau kalian tidak suka tulisan yang cengeng dan lebay, lebih baik tidak dilanjutkan membacanya. Tapi jika ingin membaca blog yang berbeda dari blog yang lainnya, silahkan baca sampai habis. Tulisan ini mengisahkan cerita yang apa adanya berdasarkan kisah nyata sang penulis.



Langsung saja ya. Selamat Jalan ya "Birong". Semoga tenang di sana. Sahabat ku yang juga sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Birong, aku minta maaf ya. Gara-gara aku, kau jadi mati.  Mungkin dengan tulisan ini aku bisa mengungkapkan rasa penyesalan ku yang terdalam. Semoga di mana pun kau berada, kau baik-baik saja di sana. Semoga kau tenteram di alam sana. Sekali lagi aku minta maaf.

Aku sangat menyesal atas semua kejahatan yang telah aku perbuat pada mu. Bukan ingin aku melakukan itu semua, tapi karena kebodohan ku.
Wajar bila kau marah padaku, membenci aku. Karena aku begitu jahat pada mu. Banyak sudah kesalahan yang telah aku perbuat pada mu. Aku menyesal. Meskipun semua penyesalan ini percuma saja. Tak akan bisa menghidupkan mu kembali.

Wajar saja jika umur mu tak panjang. Mungkin Tuhan tahu. Akan lebih lebih menderita jika kau berlama-lama bersama aku. Akan lebih banyak lagi penderitaan yang akan kau alami. Oleh karena itu Tuhan memanggil mu cepat.

Sehari sebelum kematiannya, dia menatap sinis pada ku. Seakan dia ingin berkata kepada ku bila aku yang sudah sangat bodohnya memberi dia tulang ayam. Yang menyebabkan dia menderita dan mati.

Loh kok tulang ayam?
Siapa kah "si birong"?
Bukan manusia ya?

Ada baiknya aku menceritakannya dari awal.

Semua bermula dari tanggal 1 April 2017 Sore jam 4 aku membeli anak anjing jantan di depan kampusku, harganya Rp 70 ribu. Rencana malam mau acara ulang tahun aku, istilahnya aku membeli kado untuk diriku sendiri. Daripada tidak ada sama sekali yang kasih.

Birong adalah anak anjing kampung yang berjenis kelamin jantan. Kenapa aku menamakannya birong? Birong salah satu bahasa dari suku kami. Birong yang artinya hitam. Padahal warna bulu badannya didominasi oleh warna putih. Hanya kepalanya saja yang hitam.
"Daripada aku kasih nama blue, kan nanti aku dianggap gila," ujarku dalam hati.
Tapi seminggu terakhir sebelum kematiannya, muncul bercak-bercak hitam di tubuhnya. Apakah dia akan berubah warna bulunya menjadi hitam semua, seperti anjing jenis dalmation? Entah lah.

Ada banyak cerita kenangan antara aku dan dia. Meskipun tak banyak foto yang bisa disimpan. Baru setelah dia mati, aku baru foto dia.

anjing birong


Lanjut ceritanya ke tanggal 6 Mei 2017. Pagi aku melihat Birong, anjing kesayanganku, dia muntah-muntah. Seharian dia tidak menggonggong dan tidak makan nasi. Memang dari kemarin dia sudah jarang menggonggong. Dan sudah beberapa hari dia tampak kurus. Padahal biasanya perutnya buncit. Hari ini dia paling diam sedunia, padahal biasanya paling ribut sedunia. Memang kemarin sore aku memberinya beberapa tulang ayam. Bisa jadi karena itu. Padahal biasanya tulang hanya dia emut-emut (hisap-hisap), bukan dimakan. Tapi kemarin dimakan semua tulangnya. Kalau biasanya hanya duri ikan yang dimakan dia. Tapi tidak tertutup kemungkinan dia diracuni atau sakit lain. Entah lah. Tadi pagi Mama menyuruh aku kasih teh manis panas untuk dia, entah kenapa Bapak mau menyendokkan teh manis ke mulut birong, aku yang pegang mulutnya. Karena dia tidak mau buka mulut. Lalu kami suapin juga kue roma yang diencerkan. Tapi setelah itu birong muntah-muntah. Lalu dia pindah ke gudang, padahal biasanya di lemari belakang. Mungkin kesal karena aku maksa dia makan.

Apakah Bapak tumben mau baik menyuapkan birong, karena mungkin Bapak yang sudah meracuni birong atau memukuli birong? Entah lah. Soalnya sejak kemarin birong jarang masuk rumah, padahal biasanya nakal (suka masuk rumah sambil menggonggong). Apakah waktu kamis 5 Mei 2017, saat sore aku ke rumah ku yang satu lagi, soalnya jam 7-9 malam aku mengantar Kakak ke sekolahnya. Bapak di kebon, Adik mengantar Mama dari rumah satu lagi ke kebon. Nah saat aku tidak ada di kebon, ada seseorang yang memukuli birong. Atau bisa jadi beberapa hari yamg lalu, tetangga atau siapa, yang memberi makan (racun) ke birong.

Siangnya (6 Mei 2017), giliran Kakak yang menyuapi birong, aku yang buka mulut birong. Birong hanya duduk lemas di sudut gudang. Terdengar suara seperti tersendak dalam perutnya. Mulut birong berbuih, sepertinya dia sudah rabies ataupun virus lainnya.

Kok aku sedih kali ya?
Padahal ini bukan kali pertama aku kehilangan anjing (anjingku mati). Apa karena sudah terlalu lama kami tidak memelihara anjing, dan saat sekarang aku memelihara anjing, eh dia sakit dan mati, aku jadi sangat sedih. Entah lah.

Padahal dua minggu sebelum dia mati, tiap hari aku carikan kutunya. Padahal pas beli, aku perhatikan tidak ada kutu dia. Aku yakin, kutu dia dari ayam. Soalnya pas aku dan Bapak potong beberapa ayam, banyak ayam yang berkutu di telinga dan lehernya.

Dan juga pantas saja dia jarang makan beberapa hari ini, mungkin karena dia tidak suka nasi yang selalu dicampur daun ubi di setiap harinya. Mungkin dia merasa tak enak atau sakit kalau makan daun ubi. Karena mau irit, Mamaku mencampurkan daun ubi ke nasinya birong. Padahal kata orang-orang tidak boleh itu, panas daun ubi itu di perut anjing, apalagi anjingnya masih kecil.

7 Mei pukul 06.20 aku suapkan campuran teh manis dan roma. Pagi ini dia sangat lemas dan kurus. Dan akhirnya di pukul 06.40 akhirnya si birong mati. Sebelum mati, aku mendengar suara kecilnya. Dia seperti ingin bekata sesuatu. Entah dia ingin mengucapkan salam perpisahan. Atau dia ingin marah karena aku sudah memberinya tulang yang membuat dia tersedak dan mati. Atau dia ingin menceritakan siapa yang sebenarnya yang membuat dia mati (orang yang mungkin sudah meracuni dia). Entah lah. Lalu dia kencing yang berwarna kuning dan setelah itu tak ada lagi denyut jantung yang ku rasakan di perutnya. Berarti dia sudah mati.

Bahkan saat aku menulis catatan ini, aku sambil menangis. Kok aku sedih kali ya? Apa karena aku yang cengeng? Atau karena aku yang terlalu sayang dengan si birong. Aku jadi merasa bersalah. Apa karena tulang ayam yang aku kasih di hari Jumat kemarin. Ada yang berkata, karena sayur ubi, yang tidak boleh kasih ke anjing.

Tidak akan ada lagi yang mengonggong di subuh, membangunkan aku. Tidak akan ada lagi yang aku pukul pakai lidi karena nakal masuk-masuk rumah. Tak akan ada lagi yang aku mandikan di siang hari. Tak akan ada lagi yang aku carikan kutunya.

Sesak napas aku. Kematiannya pas di hari Minggu. Mungkin kalau aku tidak membelinya di tanggal 1 April 2017 mungkin dia masih hidup. Banyak penderitaan yang sudah aku buat padanya.

Oh birong, ternyata aku jahat sekali pada mu. Banyak kesalahan yang sudah aku perbuat pada mu.

Maafkan aku, yang telah sering memberikan mu duri ikan dan tulang ayam. Tak seharusnya aku memberikan itu semua kepada mu. Sungguh bodohnya aku. Seharusnya aku berpikir, anak anjing yang masih bayi seperti mu. Belum lah bisa makan duri ikan dan tulang ayam. Padahal Bapakku sudah pernah mengingatkan aku, tapi aku tetap bodoh. Percuma saja Tuhan sudah memberikan otak padaku. Otak ini tidak aku gunakan. Lebih baik aku buang saja otak ini.

Maafkan aku ya birong, karena selama kau hidup, aku sering memukuli mu pakai sapu lidi. Aku melakukan itu hanya untuk mengajarimu supaya jangan masuk-masuk rumah. Tempat mu adalah di luar rumah, karena kau adalah binatang. Sedangkan yang di dalam rumah adalah kami, para manusia.

Mungkin Tuhan merasa kasihan karena melihat kau sering aku pukuli, oleh karena itu Tuhan sangat cepat memangilmu. Aku pun sekarang terenyuh saat mengingat rintihan saat badan kecilmu harus merasakan sakitnya beberapa helai lidi.
"Eghhhhhh....", suara rintihan mu.
Aku tahu kok, jika itu sakit. Tapi karena sayang aku ke kau. Makanya aku terpaksa melakukan itu. Aku hanya ingin mengajari mu. Agar kau terbiasa disiplin, tidak bandel seperti anjing orang lain.

Maaf ya birong, saat kau masih hidup. Aku sering merantai mu. Dan sekarang rantai ini hanya tergeletak tak digunakan di kandang mu.

Maaf juga jika aku sering mencarikan kutu mu. Soalnya si birong paling kesal jika aku mencari kutunya. Entah karena dia risih aku pegang-pegang. Tapi sepertinya dia tidak lah risih. Soalnya dia suka aku elus-elus kepalanya. Atau mungkin karena dia sayang sama kutu-kutunya, ingin berbagi darah. Rasa sesama binatang.

Sengaja aku mengambil pinset (alat pencabut bulu ketiak wanita), punya Kakakku. Hanya untuk sebagai alat mengambil kutu-kutu di badanmu. Aku tak ingin kau punya banyak kutu, seperti anjing lain.

Maafkan juga jika aku sering memandikanmu. Soalnya si birong juga sering kesal kalau aku memandikannya. Padahal aku hanya ingin kau bersih. Dan paling tidak dalam seminggu kau, ku mandikan dua kali. Biar harum. Oh iya, seminggu sebelum kau mati, aku melihat bulu-bulu mu tampak banyak rontok dan kasar. Apa karena aku memakai shampo Mamaku saat memandikan mu? Mungkin bulu mu belum terlalu kuat untuk menahan rasa panas dari shampo. Aku yang pernah memandikanmu di pagi hari. Yang membuat mu menggigil kedinginan. Sampai-sampai Mamaku marah kepada ku.

Aku juga minta maaf, karena membuat ekor mu botak. Bulu-bulu pada ekor mu rontok karena aku oleskan minyak tanah ke ekormu. Aku hanya berniat agar koreng di ekormu cepat sembuh. Dan ternyata kau malah merasa kepanasan, dan bulu-bulu mu rontok. Jahat sekali ya aku? Aku benar-benar tak tahu itu. Mamaku juga marah mengetahui hal itu.

Ada banyak cerita, menjadi kenangan.

Aku rindu sikap tak sabarnya dia, saat mau dikasih makan. Kalau sudah mendengar suara piring, dia langsung menggonggong dan menunggu di depan pintu belakang. Pagi-pagi sekitar pukul 05.30 dia sudah menggonggong, seakan minta makan. Jam 6 pagi, saat Mamaku menaruh kuali tempat masak nasi dia, dia juga menggonggong. Seakan-akan dia ingin berkata, cepat masak nasinya, dia sudah lapar, ingin segera makan.

Aku rindu, mengambil sendal-sendal yang dibawanya untuk digigitinya. Meskipun tidak ada yang rusak.

Aku rindu, melihat dia mengganggu ayam-ayam peliharaan Bapakku. Sering kali ayam-ayam Bapak mencuri-curi nasi si birong, saat si birong makan. Si birong menggonggong pada ayam, tapi ayam tetap tak peduli, tetap mencuri. Bahkan ayam-ayam sering mematok kepala birong. Padahal si birong tak ada salah, si ayam lah yang salah, yang mencuri, tapi kenapa birong yang dipatok.

Aku rindu memanggilnya "Hek... hek".

Aku rindu gonggongannya. Badan paling kecil, tapi suara paling besar.

Dan ada satu kebanggaanku padanya. Aku pernah memiliki anjing pintar seperti dia. Bisa jadi, dari semua anjing yang pernah kami pelihara, dia adalah yang paling pintar.

Yang aku salut pada si birong, kalau dia kencing dan berak, tidak mau di bawah meja (tempat tidur dia) ataupun dekat pintu rumah. Tapi dia selalu kencing dan berak dekat pagar (tepi halaman rumah).

Meskipun  dia punya 4 gigi taring yang tajam seperti serigala, tapi dia tidak mau menggigit kami. Dia hanya mengaitkan giginya, tidak menekannya kuat. Hanya sekedar ingin mengajak bermain saja.

Hampir saja dua gigi taring atas dan dua gigi taring bawahnya kami potong pakai tang pemotong besi. Sempat dilarang Bapakku. Dasar jahat sekali ya aku?

Ada satu lagi anjing kesayanganku, si mata empat kami menyebutnya. Karena dia punya dua titik hitam di jidatnya (di atas matanya). Jadi sekilas kalau dilihat dia punya empat mata. Dia anjing jantan, berwarna hitam. Anjing yang paling lama hidupnya dan paling punya banyak kenangan dari anjing-anjing lainnya.

Si mata empat sama dengan si birong. Saat dia mati, aku lah satu-satunya orang yang memegang tubuh lesunya. Aku lah yang paling tahu bagaimana saat-saat dia mati. Kalau si birong, sebelum mati dia kencing (buang air kecil) yang berwarna kuning pekat. Sedangkan si mata empat, dia berak (buang air besar) berwarna hitam pekat. Si mata empat mati akibat ditabrak truk, si birong mati karena makan duri ikan dan tulang ayam.
Alasan matinya si birong dan si mata empat masih menjadi misteri yang belum sempat terpecahkan. Meskipun cerita ditabraknya si mata empat, aku dapatkan dari tetangga. Kalian pasti sudah bisa menebak. Pastinya aku tidak akan langsung mempercayainya. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi (fakta yang belum terungkap). Dia juga dimusuhi banyak orang, dikarenakan dia suka menggonggong orang yang lewat rumah kami. Rumah saat kami di daerah KNL BWH. Rumah yang sejak lama telah kami jual.

Aku menemukan si mata empat di samping rumah nenek dari sahabatku (kira-kira sekitar 100 meter dari rumahku). Memang beberapa hari aku tidak bisa menemukannya di rumah ku. Aku mencarinya sana-sini. Setelah aku dapat kabar dari kawanku, akhirnya aku membawa si mata empat ke rumah ku dengan sebuah karung. Ku lihat sudah banyak belatung di lehernya (kalau aku tak salah ingat). Aku oleskan oli motor. Banyak belatung yang berjatuhan. Bahkan ada yang ku ambil (congkel) pakai lidi. Kakinya tidak bisa lagi bergerak. Dia hanya bisa terbaring lesu. Dan sayangnya, lubang lukanya semakin besar, sepertinya belatung sudah menggerogoti tubuhnya. Singkat cerita, dia pun mati. Tepat di tangan ku. Aku lah yang menguburinya di halaman belakang rumah.

Dan ternyata sejak meninggalnya si mata empat, aku terkadang melihat anjing-anjing orang yang mirip dengannya. Juga punya seperti empat mata. Mungkin anjing aku ini, keturunan di kotaku. Ingin rasanya suatu saat nanti, aku membeli anjing yang mirip dengannya.

Aku juga yang menguburi si birong di halaman samping rumah (ruang tengah). Pas di samping jendela. Kenapa? Supaya aku bisa selalu melihat kuburannya saat aku menonton TV.

Padahal aku 3  bari sebelum dia mati, aku membuatkan kayu-kayu tempat dia berbaring. Karena dulu, dia tidur di atas keramik. Sekarang kayu ini tergeletak saja tanpa fungsi di halaman belakang rumah kami.

Banyak yang kurang suka dengan si birong. Bahkan setelah kematiannya, Bapak dan Mama tidak berkata padaku, beli lagi anjing lain. Meskipun itu hanya sebatas basa-basi tapi tidak dikatakan mereka. Berarti mereka tidak ingin kami memelihara anjing lagi. Apalagi Bapakku mungkin kesal setiap kali mendengar gonggongan si birong. Karena Bapakku orangnya suka tidur. Pastinya tidak nyaman mendengar si birong yang suka menggonggong.

Memang si mata empat bukan lah anjing pertamaku. Tapi dia anjing pertama yang paling aku sayang. Dan si birong, anjing kedua yang paling aku sayang. Kedua-duanya sama saja sayangnya.

Mungkin ada diantara kalian yang mengatakan, jika aku ini sangat lebay. Terlalu berlebihan dalam memelihara anjing. Menurut aku, apa yang aku lakukan adalah biasa-biasa saja. Orang-orang di luar negeri (bule) juga sayang sekali dengan anjingnya. Ada yang memberi pakaian ke anjingnya. Anjingnya diajak ke salon. Ada yang anjingnya diajak jalan-jalan naik mobil ataupun pesawat. Bahkan ada yang menciumi anjingnya dan tidur di kasur bersama. Aku tidak melakukan itu.

Entah kenapa aku merasa si birong dan si mata empat, mereka bukan lah anjing biasa. Aku merasa dia seperti manusia. Yang punya hati. Aku telah menganggap dia seperti saudara ku sendiri, adikku sendiri. Tolol sekali ya aku, yang menyamakan adikku (manusia) dengan si birong (anjing).

Bagiku anjing itu tak sekedar penjaga rumah, tapi sahabat di rumah. Entah karena aku tak punya sahabat, makanya aku menjadikan mereka berdua sahabatku. Entah lah. Anjing itu tidak sekedar hanya dikasih makan, tapi juga harus disayangi.

Aku merasa matanya mereka berdua hidup. Aku merasa mereka bisa mendengar, apa yang dikatakan  manusia. Aku merasa mereka bisa merasakan apa yang dirasakan manusia.
Aku tidak peduli jika dikatakan berhalusinasi ataupun delusi. Aku merasa itu nyata. Mereka benar-benar bisa merasakan apa yang aku rasakan. Meskipun mereka tetap lah seekor anjing dengan perikebinatangannya.

Seperti sudah lama, aku tidak menangis. Begitu tenangnya air mata ini menetes. Begitu nikmatnya kesedihan ini ku rasakan.

Loh bukan kah aku orangnya cengeng?
Berarti sering menagis dong?
Iya, benar. Tapi sudah beberapa bulan aku tidak menangis. Malam ini (9 Mei 2017) melanjutkan catatan. Tangisan di atas tempat tidur. Tanpa ada orang melihat tetesan air mata ini. Sampai-sampai bajuku basah mengelap ingus (air dalam hidung akibat menangis terisak-isak). Hingga jam 01.20 pada 9 Mei 2017.

Semoga tenang di sana. Sekali lagi, maaf kan aku ya? Namun wajar kok jika seandainya kau tidak mau maafkan aku.

I MISS YOU BIRONG...

No comments:

Post a Comment

Dilarang memasang link aktif. Karena pasti akan admin hapus.